MAKASSAR — Ketua PWI Sulawesi Selatan terpilih, Ir. H. Suwardi Thahir, memimpin langsung rombongan pengurus dalam audiensi bersama jajaran direksi Perumda Air Minum Kota Makassar. Rombongan disambut Plt Direktur Utama Andi Syahrum di kantor perusahaan daerah itu.
Suwardi menilai kepemimpinan PDAM saat ini memiliki sistem mitigasi yang terencana dengan baik. Respons antisipatif itu, menurutnya, membuat warga tetap mendapatkan pasokan air bersih secara merata meski cuaca ekstrem menekan ketersediaan sumber air baku.
El Nino Godzilla Jadi Latar Penilaian
Ancaman kekeringan ekstrem akibat El Nino Godzilla menjadi konteks utama pertemuan tersebut. Suwardi menyebut kondisi itu sebagai tekanan nyata bagi daerah yang mengandalkan sumber air baku dari permukaan.
"Masalahnya, kepemimpinan sekarang ini punya sistem mitigasi yang baik untuk menyediakan air bersih kepada masyarakat. Ini El Nino Godzilla," tegas Suwardi.
Ia menambahkan PWI Sulsel siap bersinergi mengawal dan menyampaikan informasi faktual kepada masyarakat demi kebaikan bersama di Kota Makassar.
PDAM Klaim Layanan Berjalan 24 Jam
Andi Syahrum menyambut positif dukungan dan kunjungan PWI Sulsel. Ia menegaskan media memiliki peran strategis dalam menjembatani informasi kepada publik.
Pihaknya juga berkomitmen bekerja maksimal hingga 24 jam penuh demi menuntaskan instruksi Wali Kota dan Wakil Wali Kota dalam mengoptimalkan layanan air bersih.
"Sebagai instruksi dari Bapak Wali Kota bahwa kita harus menyelesaikan persoalan air. Maka dari itu kami bekerja semaksimal mungkin dalam pelayanan air, bahkan hingga 24 jam," ujar Andi Syahrum.
Sinergi Media dan Operator Air Minum
Audiensi ini menempatkan PWI Sulsel bukan hanya sebagai pengawas pemberitaan, tetapi juga mitra dalam menyampaikan informasi faktual soal kondisi pasokan air ke warga Makassar.
Dukungan tersebut dinilai penting agar masyarakat mendapat gambaran akurat di tengah situasi cuaca yang tidak menentu. Perumda Air Minum Kota Makassar sendiri belum merinci berapa besar cadangan air baku yang tersedia untuk menghadapi puncak kekeringan.
Yang jelas, kedua pihak sepakat menjaga komunikasi agar persoalan air bersih di Kota Makassar tidak berkembang menjadi krisis layanan bagi warga.