SULAWESI SELATAN — Namira Adjani kembali mencuri perhatian lewat pencapaiannya di dunia lari. Kali ini, perempuan yang akrab disapa Namira itu mengikuti ajang marathon di Sydney, Australia. Yang bikin momen ini istimewa, Alya Rohali dan sang suami ikut hadir mendampingi dari garis start hingga finis.
Bagi banyak ibu, melihat anak tumbuh dewasa dan menikah sering memunculkan pertanyaan: sampai kapan orang tua perlu mendampingi? Potret keluarga Alya Rohali ini memberi jawaban sederhana, kehadiran orang tua tetap berarti di setiap fase hidup anak, termasuk saat mereka sudah punya keluarga sendiri.
Namira Adjani, Six Star Finisher Perempuan Termuda dari Indonesia
Nama Namira Adjani bukan hal baru di komunitas lari Indonesia. Ia tercatat sebagai Six Star Finisher perempuan termuda dari Indonesia, sebuah pencapaian yang diraih setelah menuntaskan enam marathon mayor dunia.
Prestasi ini bukan hasil instan. Butuh latihan bertahun-tahun, disiplin menjaga pola makan, dan dukungan keluarga yang konsisten. Di sinilah peran Alya Rohali dan suami terlihat nyata, bukan sekadar hadir di momen kemenangan, tapi menemani proses panjangnya.
Kenapa Dukungan Orang Tua Tetap Penting Saat Anak Sudah Menikah
Banyak ibu merasa canggung atau takut dianggap terlalu ikut campur setelah anak menikah. Padahal, dukungan emosional tetap dibutuhkan, hanya bentuknya yang berubah.
- Hadir tanpa mengatur. Orang tua bisa mendukung tanpa mengambil alih keputusan anak dan pasangannya.
- Menjadi penyemangat, bukan penilai. Apresiasi pada usaha anak lebih berharga daripada komentar soal hasil.
- Menjaga komunikasi rutin. Telepon atau pesan singkat tetap membuat anak merasa diperhatikan.
- Menghormati ruang pasangan. Libatkan menantu dalam setiap momen keluarga agar tidak ada yang merasa dikesampingkan.
Psikolog keluarga sering menyebut istilah secure base, yaitu rasa aman yang membuat anak berani mengambil risiko karena tahu ada tempat kembali. Rasa aman ini tidak hilang hanya karena anak sudah menikah.
Pelajaran Parenting dari Momen Alya Rohali di Sydney
Yang dilakukan Alya Rohali dan suami sebenarnya sederhana: hadir. Tidak perlu mengunggah banyak kata atau memberi ceramah panjang. Kehadiran fisik di momen penting anak sudah cukup menjadi pesan bahwa mereka dicintai.
Untuk ibu-ibu di rumah, ini bisa jadi pengingat bahwa mendampingi anak bukan soal mengatur hidupnya. Mendampingi berarti siap ada saat anak butuh, dan siap mundur saat anak ingin mandiri.
Hubungan orang tua dan anak dewasa memang butuh penyesuaian. Tapi seperti ditunjukkan keluarga Alya Rohali, kedekatan itu bisa tetap hangat asal dibangun dengan rasa hormat dan kepercayaan.
Kapan Perlu Konsultasi ke Psikolog Keluarga
Tidak semua dinamika keluarga berjalan mulus. Kalau ibu merasa hubungan dengan anak yang sudah menikah jadi renggang, sering terjadi konflik, atau muncul rasa cemas berlebihan, jangan ragu mencari bantuan profesional.
Psikolog keluarga bisa membantu ibu dan anak menemukan pola komunikasi yang lebih sehat. Konsultasi bukan tanda kegagalan, justru langkah bijak untuk menjaga hubungan tetap baik dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, momen seperti marathon Namira di Sydney mengingatkan satu hal: anak boleh tumbuh dewasa dan punya hidup sendiri, tapi kasih sayang orang tua tidak pernah punya garis finis.