SULAWESI SELATAN — Drama China The Lament of Autumn resmi menayangkan episode terakhirnya dengan akhir tragis bagi Yu Changxuan dan Ye Pingjun. Meski sempat kembali bersama setelah berbagai kesalahpahaman, takdir memisahkan keduanya secara permanen. Serial ini sendiri meraih rating tertinggi S+ dari Yunhe saat 15 episode tersedia.
Cheng Lei dan Xu Ruohan menutup perjalanan karakter mereka di The Lament of Autumn lewat finale yang tidak memberi akhir bahagia utuh. Kisah cinta Yu Changxuan dan Ye Pingjun berakhir dengan pengorbanan di tengah konflik bersenjata era Republik China.
Ye Pingjun dan Yu Changxuan sempat terpisah panjang akibat kesalahpahaman soal kematian ibu Ye Pingjun. Kebenaran yang akhirnya terungkap membuat hubungan keduanya kembali membaik.
Setelah kembali bersama, Ye Pingjun terlibat dalam perjuangan membantu para pejuang di tengah konflik dengan Jepang. Yu Changxuan di sisi lain harus menjalankan tugas militer dan memimpin pasukan mempertahankan wilayah dari serangan musuh.
Sebelum berangkat ke medan perang, Yu Changxuan berjanji akan kembali dan menanam pohon maple bersama Ye Pingjun. Janji itu tak kesampaian.
Dalam pertempuran, Yu Changxuan mengalami luka parah saat mempertahankan garis pertahanan. Nasibnya digambarkan berakhir tragis di medan perang, sementara Ye Pingjun tetap hidup dan membesarkan anak mereka.
Adaptasi drama ini mengubah nasib kedua tokoh utama dari novel aslinya karya Ling Xi berjudul Yu Dian Qiu. Di versi novel, Ye Pingjun justru meninggal dunia setelah melalui berbagai penderitaan, sedangkan Yu Changxuan tetap hidup dan menikah dengan perempuan lain.
Versi drama membalik nasib itu: Ye Pingjun bertahan hidup, Yu Changxuan yang gugur dalam perjuangan mempertahankan negara. Dua versi sama-sama tidak memberi kesempatan bagi pasangan ini untuk hidup bersama hingga tua.
Kisah penuh konflik, pengorbanan, serta intrik keluarga dan peperangan ini berhasil menarik perhatian penonton. The Lament of Autumn meraih rating tertinggi S+ dari Yunhe ketika 15 episode jumlah tersedia.
Pencapaian itu menempatkan serial berlatar era Republik China ini di jajaran drama yang diperhitungkan pada periode penayangannya.
Bagi penonton Indonesia, The Lament of Autumn menambah deretan drama China bergenre periode yang mengandalkan tragedi romansa sebagai daya tarik utama, pola yang juga akrab di pasar penonton serial Asia Tenggara.