Prof Andi Sukri Syamsuri Dilantik Ketua HISKI Sulsel di UNY, Sasar Kajian Sastra Bugis-Makassar-Mandar-Toraja

Penulis: Ramli Siregar  •  Selasa, 27 Oktober 2026 | 09:32:31 WIB
Prof Andi Sukri Syamsuri dilantik sebagai Ketua HISKI Sulsel dalam prosesi di UNY.

MAKASSAR — Wakil Rektor I Unismuh Makassar itu dilantik bersama sejumlah pengurus komisariat HISKI dari berbagai wilayah dan perguruan tinggi Indonesia. Dalam kepengurusan HISKI Sulsel, Prof Andis didampingi Dr Azis Nojeng dari Universitas Negeri Makassar sebagai sekretaris.

Jabatan bendahara dipercayakan kepada Guru Besar Universitas Hasanuddin Prof Dr Munirah Hasyim. Sejumlah pengurus lain turut hadir dalam prosesi pelantikan, di antaranya Dr Besse Darmawati, Dr Muh Akhir, Dr Hasriani Sheria, Dr Hj Andi Hasrianti, Dr H Syahruddin, Dr Ririn Sabriadi, Dr Haslindah, dan Dr Maria Ulva.

Pembina HISKI Sulsel Prof Dr A Takko Bandung juga hadir bersama sejumlah akademisi dan pengurus lainnya.

Siapa Pengurus yang Dilantik dan dari Kampus Mana Saja

Keterlibatan akademisi dari Unismuh Makassar, UNM, dan Unhas menunjukkan jejaring keilmuan kesusastraan Sulsel cukup luas. Prof Andis sendiri dikenal sebagai akademisi yang akrab disapa Prof Andis di lingkungan kampus Muhammadiyah.

Kolaborasi lintas kampus itu dinilai bisa dikembangkan melalui penelitian bersama, seminar nasional, diskusi ilmiah, penerbitan karya akademik, serta pengabdian kepada masyarakat berbasis sastra dan kebudayaan.

Bagi Unismuh Makassar, kepemimpinan Prof Andis di HISKI Sulsel menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi Muhammadiyah dalam pengembangan ilmu pengetahuan, bahasa, sastra, dan kebudayaan.

Empat Tradisi Sastra yang Jadi Fokus Kajian HISKI Sulsel

Sulawesi Selatan punya kekayaan tradisi sastra yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Tradisi itu mencakup karya sastra tertulis, cerita rakyat, puisi tradisional, serta sastra lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Warisan kesusastraan tersebut tidak hanya mengandung nilai estetika. Di dalamnya terekam pandangan hidup, kearifan lokal, nilai moral, dan dinamika sosial masyarakat.

Di bawah kepemimpinan Prof Andis, HISKI Sulsel diharapkan memperluas kajian terhadap kekayaan sastra daerah melalui pendekatan akademik yang relevan dengan perkembangan masyarakat kontemporer. Pengembangan sastra lokal juga perlu diarahkan agar karya dan tradisi kesusastraan Sulsel dikenal di forum ilmiah nasional maupun internasional.

Pesan Ketua Umum HISKI Pusat soal Riset Berbasis Kearifan Lokal

Ketua Umum HISKI Pusat Prof Novi Anoegrajekti dalam arahannya menekankan pentingnya penguatan organisasi kesusastraan menghadapi perubahan sosial dan perkembangan zaman. Menurutnya, kajian kesusastraan memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat dan dinamika kebudayaan.

Prof Novi mendorong perluasan kolaborasi akademik dan penguatan riset kesusastraan berbasis kearifan lokal. Keberadaan komisariat HISKI di berbagai daerah diharapkan menjadi penggerak kegiatan ilmiah, publikasi, pendidikan, serta pelestarian karya sastra Nusantara.

Penguatan organisasi itu sekaligus membuka peluang bagi akademisi mengembangkan pendekatan interdisipliner dalam memahami hubungan antara sastra, bahasa, kebudayaan, dan perubahan sosial.

Tantangan Digitalisasi bagi Sastra Daerah

Perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru bagi kesusastraan Indonesia. Digitalisasi memungkinkan karya sastra dan tradisi lisan daerah didokumentasikan, diteliti, serta disebarluaskan lebih luas kepada masyarakat.

Di sisi lain, perubahan pola komunikasi dan konsumsi informasi menuntut dunia kesusastraan menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda. Dalam konteks itu, HISKI Sulsel diharapkan mengembangkan kegiatan akademik yang tidak hanya berorientasi pada penelitian dan publikasi ilmiah, tetapi juga mendorong literasi sastra di tengah masyarakat.

Reporter: Ramli Siregar
Sumber: suaramuhammadiyah.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top