Singapura Impor Listrik 1,3 GW dari Malaysia, Sembcorp Kantongi Izin Bersyarat

Penulis: Ramli Siregar  •  Senin, 26 Oktober 2026 | 14:38:02 WIB
Otoritas Pasar Energi Singapura memberikan persetujuan bersyarat kepada Sembcorp Utilities untuk mengimpor listrik 1,3 GW dari Malaysia.

SULAWESI SELATAN — Otoritas Pasar Energi Singapura (EMA) memberi persetujuan bersyarat kepada Sembcorp Utilities untuk mengimpor listrik 1,3 gigawatt dari Malaysia. Pasokan rendah karbon itu melibatkan konsorsium Petronas, TNB, dan PTSC, dengan target operasi komersial pada 2035.

Persetujuan bersyarat itu diumumkan di sela Singapore International Energy Week (SIEW) ke-19, bersamaan dengan pembaruan Nota Kesepahaman antara EMA dan Komisi Energi Malaysia (ST). Dokumen kerja sama disaksikan Wakil Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Fadillah Yusof dan Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Dr. Tan See Leng.

Proyek impor listrik dijalankan Sembcorp Utilities bersama MY Energy Consortium (MYEC) yang beranggotakan Petroliam Nasional Bhd (Petronas), Tenaga Nasional Bhd (TNB), dan PetroVietnam Technical Services Corporation (PTSC).

Target Operasi 2035 dan Pekerjaan Rumah Konsorsium

Sembcorp Utilities menargetkan pasokan listrik dari proyek ini mulai mengalir pada 2035. Tenggat itu menyisakan sekitar sembilan tahun bagi konsorsium untuk merampungkan seluruh perizinan, meneken Perjanjian Jual Beli Listrik (PPA) dengan pembeli, dan mengamankan pendanaan.

"Sembcorp Utilities menargetkan impor listrik dari proyek ini dapat mulai berjalan pada 2035," demikian pernyataan EMA.

Lewat izin tersebut, Singapura dapat memperoleh dan mengintegrasikan pasokan listrik rendah karbon dari sumber daya regional maupun domestik. Kombinasinya mencakup pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai dari Vietnam serta tenaga surya dari Malaysia.

Isi Pembaruan MoU: dari Gas Pipa hingga Sertifikat Energi Terbarukan

Pembaruan kemitraan strategis EMA–ST menyediakan kerangka kerja untuk memperkuat kerja sama teknis, pertukaran regulasi, dan berbagi pengetahuan antar kedua regulator. Cakupan fokusnya cukup lebar:

  • Perencanaan dan keandalan sistem kelistrikan serta gas pipa
  • Regulasi pasar listrik grosir dan eceran
  • Pelaksanaan proyek perdagangan listrik lintas batas
  • Sertifikat Energi Terbarukan (REC)
  • Kapasitas interkoneksi antar negara

MoU tersebut juga memperkuat kolaborasi pada sistem tenaga surya dan penyimpanan energi, menurut pernyataan resmi kedua pihak.

Kelanjutan Perjanjian di KTT ASEAN 2025

Kesepakatan terbaru ini merupakan tindak lanjut joint development agreement yang ditandatangani di sela KTT ASEAN ke-46 di Kuala Lumpur, Malaysia, Mei 2025. Artinya, jalur proyek sudah berjalan lebih dari setahun sebelum izin bersyarat keluar.

Bagi Singapura, langkah ini memperkuat strategi diversifikasi pasokan listrik rendah karbon dari kawasan. Bagi Malaysia, pembaruan MoU membuka akses pada kerangka regulasi dan keahlian teknis pasar energi Singapura.

Apa Artinya bagi Pelaku Energi dan Investor

Persetujuan bersyarat menandakan proyek belum berstatus final. Risiko utama tetap pada perizinan, penandatanganan PPA, dan struktur pendanaan konsorsium — tiga hal yang menentukan apakah target 2035 realistis.

Untuk TNB dan Petronas, keterlibatan dalam MYEC menempatkan keduanya sebagai pemasok listrik lintas batas ke salah satu pasar energi paling maju di Asia Tenggara. Bagi Sembcorp, izin ini memperluas portofolio impor listrik di luar skema domestik.

Perdagangan listrik lintas batas ASEAN sendiri masih menghadapi tantangan interkoneksi dan harmonisasi regulasi antar negara. Pembaruan MoU EMA–ST menjadi salah satu batu uji apakah kerangka regional itu bisa berjalan sesuai jadwal.

Reporter: Ramli Siregar
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top