Rupiah Melemah 0,22% ke Rp17.730, Pasar Yakin The Fed Naikkan Bunga

Penulis: Ujang Rahmat  •  Rabu, 16 September 2026 | 09:43:31 WIB
Rupiah melemah 0,22% ke Rp17.730 per dolar AS pada pembukaan perdagangan.

SULAWESI SELATAN — Rupiah terdepresiasi 0,22% ke Rp17.730 per dolar AS pada pembukaan perdagangan, tersengat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang kini dinilai pasar sebagai kepastian. Harga energi yang kembali melonjak memperkuat tekanan hawkish, menyeret hampir seluruh mata uang Asia melemah terhadap dolar.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah dibuka di level Rp17.689 per dolar AS, lalu melemah ke Rp17.730 pada pukul 09.03 WIB. Pelemahan ini terjadi setelah harga minyak mentah jenis Brent kembali naik ke US$108 per barel, memicu kekhawatiran inflasi global yang lebih panjang.

Survei median estimasi pelaku pasar memperkirakan Fed Fund Rate (FFR) akan terkerek ke rentang 3,75%-4,00%. Angka inflasi Amerika Serikat yang membandel membuat ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed semakin kuat.

Pasar Bulat 100% The Fed Naikkan Bunga

Berdasarkan data FedWatch, pelaku pasar sepakat penuh bahwa The Fed akan menaikkan FFR, dengan probabilitas mencapai 100%. Kenaikan harga minyak Brent ke US$108 per barel memperkuat alasan bank sentral AS untuk mempertahankan sikap hawkish.

Tekanan ini merembet ke pasar Asia. Won Korea Selatan melemah 0,52%, disusul yen Jepang dan rupiah. Pelemahan dolar Taiwan, dolar Singapura, dan baht Thailand lebih terbatas, sementara hanya peso Filipina yang menguat pagi ini.

Yen hingga Rupiah Jadi Mata Uang Terlemah

Pergerakan mata uang Asia dalam beberapa hari terakhir memperlihatkan tekanan hawkish yang mulai terasa. Yen Jepang, dolar Taiwan, won Korea Selatan, dan rupiah menempati posisi sebagai mata uang dengan kinerja terlemah terhadap dolar AS.

Bagi pelaku pasar Indonesia, pelemahan rupiah yang menembus Rp17.730 berpotensi menekan imbal hasil obligasi dan memperlebar defisit neraca perdagangan jika harga energi terus naik. Investor asing biasanya mengurangi porsi di aset berdenominasi rupiah saat tekanan eksternal seperti ini berlanjut.

Penguatan dolar AS juga berdampak langsung ke biaya impor bahan bakar dan bahan baku industri. Pelaku usaha yang memiliki utang dalam dolar AS perlu mencermati pergerakan kurs dalam beberapa sesi ke depan.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Ujang Rahmat
Sumber: bloombergtechnoz.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top