BRI Catat Laba Rp31,2 Triliun, Kredit Tumbuh 16,2 Persen Hingga Kuartal II 2026

Penulis: Sabar Simanjuntak  •  Senin, 07 September 2026 | 10:23:01 WIB
Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi menyampaikan paparan kinerja keuangan perseroan pada konferensi pers di Jakarta, Senin (7/9).

SULAWESI SELATAN — Total aset BRI ikut menguat 11,7 persen secara tahunan menjadi Rp2.352 triliun. Namun di balik angka pertumbuhan itu, manajemen menegaskan tetap menjaga kualitas pembiayaan lewat seleksi kredit yang ketat dan pengawasan risiko yang disiplin.

Rasio Kesehatan Bank: Kredit Macet Turun, Dana Murah Naik

Perbaikan fundamental terlihat dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) yang turun dari 3,07 persen pada akhir 2025 menjadi 2,9 persen di Triwulan II 2026. Rasio Loan at Risk (LaR) juga membaik dari 9,6 persen ke 9,1 persen, mencerminkan kualitas booking kredit baru yang semakin selektif.

Biaya pencadangan atau Cost of Credit (CoC) ikut turun dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen. Manajemen menyebut strategi selective growth, penguatan early warning system di segmen ritel, serta optimalisasi fungsi collection dan recovery menjadi kunci perbaikan tersebut.

Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.581 triliun atau tumbuh 6,7 persen yoy. Komposisi dana murah (CASA) meningkat dari 65,5 persen menjadi 67,6 persen, menandakan struktur biaya dana yang semakin efisien.

Modal Kuat untuk Fungsi Intermediasi

Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) tercatat 21,5 persen, jauh di atas ambang batas regulasi. Adapun Loan to Deposit Ratio (LDR) konsolidasi entitas bank berada di level 90,8 persen, yang dinilai ideal untuk menjalankan fungsi intermediasi.

“Dengan likuiditas yang terkelola dengan baik dan permodalan yang tetap kuat, BRI memiliki fondasi yang memadai untuk melanjutkan pertumbuhan secara sehat dan berkelanjutan, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas,” ujar Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (7/9).

Pernyataan itu menegaskan arah perseroan yang tidak sekadar mengejar ekspansi, tetapi juga menyeimbangkan risiko. Penguatan modal memberi ruang bagi BRI untuk tetap agresif menyalurkan kredit tanpa mengorbankan ketahanan terhadap gejolak ekonomi.

Fokus UMKM dan Dukungan ke Agenda Pemerintah

Dengan fundamental yang solid, BRI disebut memiliki ruang luas untuk terus menjalankan peran intermediasi, terutama pada segmen UMKM yang menjadi core business perseroan. Fokus ini tidak hanya untuk memperluas inklusi keuangan, tetapi juga berjalan beriringan dengan dukungan BRI terhadap berbagai agenda prioritas pemerintah.

Kinerja kuartal kedua ini menjadi sinyal bahwa permintaan kredit produktif masih tumbuh di tengah kondisi ekonomi yang dinamis. Bagi pelaku UMKM, ekspansi kredit perbankan seperti ini berarti akses modal yang lebih longgar untuk pengembangan usaha.

Reporter: Sabar Simanjuntak
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top