SULAWESI SELATAN — Gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) menyisakan luka mendalam. Di tengah pemulihan yang belum tuntas, Brotherhood Squad Indonesia (BROSQI) memilih bergerak dengan cara yang berbeda: bukan sekadar mengirim bantuan lewat transfer, tapi membawanya langsung lewat 49 sepeda motor menyusuri daratan Flores.
Perjalanan bertajuk "Humanity Tour" ini berlangsung pada 22-30 Agustus 2026. Titik start dan finish berada di Labuan Bajo, dengan rute menuju Larantuka di ujung timur Flores, lalu kembali lagi. Total jarak tempuh mencapai lebih dari 1.000 kilometer melewati medan yang tidak semuanya mulus.
Ini bukan riding santai. Dari siaran resmi yang diterima detikOto, rombongan membawa misi ganda: menyalurkan bantuan gempa sekaligus mengunjungi panti asuhan, sekolah, rumah ibadah, dan masyarakat yang membutuhkan di sepanjang jalur.
Pertanyaan paling krusial dari aksi semacam ini: bagaimana 49 motor membawa cukup barang untuk dibagikan di banyak titik? BROSQI menjawabnya dengan strategi distribusi bertahap. Bantuan dipecah dan dibawa di sela-sela bagasi atau box belakang masing-masing motor, lalu diisi ulang di titik-titik tertentu sepanjang rute.
Jenis bantuan yang disalurkan meliputi sembako, pakaian layak pakai, tas dan perlengkapan sekolah, alat tulis, kebutuhan anak-anak, perlengkapan harian, obat-obatan, hingga dana tunai. Fleksibilitas ini memungkinkan rombongan berhenti kapan saja ketika menemukan warga yang membutuhkan di sepanjang perjalanan.
Juru bicara BROSQI menegaskan motivasi di balik touring panjang ini.
"Kami datang bukan hanya untuk riding dan menikmati Flores. Kami ingin perjalanan ini juga membawa manfaat. Di sepanjang jalur, kami berusaha hadir langsung untuk saudara-saudara yang terdampak gempa, anak-anak di panti asuhan dan sekolah, serta masyarakat yang membutuhkan," ujarnya dalam siaran resmi.
Pernyataan ini penting digarisbawahi karena membedakan Humanity Tour dari touring konvoi biasa. Fokus utamanya adalah interaksi langsung, bukan sekadar foto dokumentasi.
Salah satu sorotan utama misi ini adalah kunjungan ke panti yang merawat anak-anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas. Di lokasi-lokasi ini, anggota BROSQI berinteraksi langsung dengan anak-anak — memberikan dukungan moral yang tidak bisa diukur dengan nominal uang.
Pendekatan ini patut diapresiasi karena kelompok rentan sering luput dari prioritas penyaluran bantuan saat bencana. Kehadiran langsung komunitas motor memberikan dampak psikologis yang berbeda dibanding sekadar paket bantuan yang dititipkan.
Secara kritis, ada catatan yang perlu diluruskan. Menggunakan 49 motor untuk membawa bantuan punya keterbatasan volume. Dibanding truk logistik, kapasitas angkut per motor jauh lebih kecil. Namun untuk menjangkau titik-titik terpencil di Flores yang mungkin sulit diakses kendaraan besar, justru inilah kekuatannya.
Selain itu, biaya operasional rombongan sebesar ini — BBM, akomodasi 9 hari untuk 49 orang, plus perawatan motor di medan berat — kemungkinan besar melebihi nilai bantuan yang dibawa. Ini dilema klasik aksi sosial komunitas motor. Pertanyaannya bukan "efisien atau tidak", melainkan apakah aspek kebersamaan dan awareness yang tercipta sebanding dengan biaya logistiknya.
Humanity Tour BROSQI membuktikan bahwa komunitas motor bisa menjadi saluran distribusi bantuan yang efektif untuk daerah terpencil. Dengan 49 motor, 9 hari, dan ribuan kilometer, mereka menjangkau titik-titik yang mungkin terlewat oleh organisasi bantuan besar.
Semoga lekas pulih NTT, dan semoga aksi ini menginspirasi komunitas otomotif lain untuk meniru — bukan sekadar konvoi, tapi membawa manfaat nyata.