5G Indonesia Butuh Spektrum 3,5 GHz, Ini Dampaknya buat Kualitas Internet dan Cloud Gaming

Penulis: Sabar Simanjuntak  •  Sabtu, 15 Agustus 2026 | 20:13:31 WIB
Frekuensi 3,5 GHz dinilai sebagai spektrum emas untuk mengoptimalkan jaringan 5G di Indonesia.

SULAWESI SELATAN — Frekuensi 3,5 GHz selama ini masih dipakai untuk layanan satelit, sehingga belum bisa langsung dimanfaatkan operator untuk jaringan 5G. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) masih melakukan kajian komprehensif terkait peruntukan band dan skema pemanfaatannya sebelum menentukan langkah selanjutnya, termasuk jadwal lelang.

Padahal, pita frekuensi ini disebut-sebut sebagai 'spektrum emas' yang mampu membuat teknologi 5G bekerja optimal. Karakteristiknya berada di kelas menengah (mid-band), sehingga punya keseimbangan antara jangkauan luas ala frekuensi rendah dan kapasitas besar ala frekuensi tinggi.

Kenapa 3,5 GHz Lebih Unggul dari 700 MHz dan 2,6 GHz?

Lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz memang sudah berjalan dan akan meningkatkan kualitas internet nasional. Namun, kedua pita tersebut dinilai belum cukup membuat jaringan generasi kelima ini "lari kencang".

Direktur Eksekutif ATSI, Marwan O. Baasir, menyatakan kebutuhan spektrum 3,5 GHz untuk pengembangan 5G di Indonesia mencapai 200 sampai 250 MHz. Angka ini penting karena layanan 5G membutuhkan setidaknya 100 MHz untuk memberikan kapasitas yang lebih besar.

Frekuensi rendah seperti 700 MHz unggul dalam hal jangkauan dan penetrasi bangunan, cocok untuk memperluas cakupan. Sementara frekuensi 3,5 GHz menawarkan kapasitas lebih besar untuk melayani trafik data tinggi, terutama di perkotaan dan lokasi padat pengguna.

Dampak ke Gamer dan Pengguna Internet Indonesia

Keunggulan utama frekuensi 3,5 GHz terletak pada keseimbangan coverage dan capacity. Dengan spektrum yang lebih lebar, operator bisa meningkatkan kecepatan unduh, menambah kapasitas jaringan, dan menekan kepadatan trafik.

Dampaknya langsung terasa pada layanan yang membutuhkan koneksi berkapasitas tinggi dan latensi rendah. Streaming video resolusi tinggi, cloud gaming, hingga aplikasi industri berbasis 5G menjadi sektor yang paling diuntungkan jika pita ini resmi dilelang.

Standar Global dan Kajian Pemerintah

Mayoritas pasar Asia-Pasifik sudah menggunakan pita 3,5 GHz sebagai fondasi utama jaringan 5G. Korea Selatan, Malaysia, Kamboja, Selandia Baru, dan Taiwan bahkan menggunakannya secara eksklusif untuk layanan 5G.

Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan pemerintah belum menetapkan jadwal lelang karena masih menunggu kajian lengkap. "Waktunya, kalau untuk 3,5 GHz masih kita pikirkan sambil menunggu kajian lengkapnya, terkhusus yang terkait dengan peruntukan band tersebut dan pemanfaatannya," kata Meutya baru-baru ini.

Selama kajian belum rampung, pengguna 5G di Indonesia masih harus bergantung pada pita frekuensi yang ada saat ini. Potensi peningkatan kualitas jaringan untuk kebutuhan gaming dan streaming masih menunggu kepastian regulasi dari pemerintah.

Reporter: Sabar Simanjuntak
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top