SULAWESI SELATAN — Penutupan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sejak 9 Agustus 2026 memaksa pemerintah menyiapkan skema kompensasi bagi wisatawan. Data Balai Besar TNBTS mencatat 2.671 wisatawan nusantara dan 391 wisatawan mancanegara memegang tiket online untuk periode yang terdampak karhutla tersebut.
Kemenpar menegaskan keselamatan menjadi prioritas utama dalam situasi tanggap darurat ini. "Kami mendukung penuh keputusan penutupan sementara akses wisata Gunung Bromo sampai kondisi dinyatakan aman oleh otoritas yang berwenang. Wisatawan diimbau untuk tidak memaksakan perjalanan dan selalu mengikuti informasi resmi," demikian pernyataan resmi Kementerian Pariwisata, Senin (10/8).
Wisatawan yang membeli tiket masuk TNBTS untuk periode 9 Agustus hingga kawasan dibuka kembali memiliki dua pilihan. Pertama, reschedule gratis untuk perubahan jadwal kunjungan tanpa biaya tambahan. Kedua, refund 100 persen yang ditransfer langsung ke rekening bank atau e-wallet pemohon.
Pengajuan kompensasi dilakukan melalui tautan resmi https://bit.ly/form-refund-reschedule-karhutla-bromo. Formulir wajib diisi paling lambat 31 Agustus 2026 dengan melampirkan bukti pembayaran. Proses pencairan dana refund memakan waktu 3-14 hari kerja, dan konfirmasi dikirim melalui email atau WhatsApp.
Layanan informasi tambahan tersedia melalui WhatsApp di 085117788005 atau 085158891328, serta akun Instagram resmi @bbtnbromotenggersemeru. Kemenpar mengingatkan wisatawan untuk hanya menggunakan kanal resmi tersebut guna menghindari penipuan.
Skema pengembalian dana di atas hanya menyasar tiket masuk kawasan konservasi. Untuk akomodasi, hasil koordinasi Kemenpar dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyatakan belum ada mekanisme khusus refund atau reschedule akibat penutupan Bromo.
Pengelola hotel tetap menggunakan kebijakan normal masing-masing dalam menangani pembatalan atau perubahan jadwal. Kemenpar meminta pelaku industri pariwisata aktif memberikan informasi transparan kepada wisatawan yang terpaksa menunda perjalanan.
"Fokus kita saat ini adalah memastikan penanganan kebakaran berjalan optimal dan kawasan benar-benar aman. Setelah kondisi terkendali, Kemenpar akan berkoordinasi untuk memulihkan aktivitas pariwisata serta perekonomian masyarakat lokal Bromo," tutup pihak Kemenpar.
Karhutla yang melanda kawasan TNBTS memaksa otoritas menutup akses pendakian dan wisata untuk mencegah meluasnya kebakaran. Langkah ini diambil demi melindungi ekosistem kawasan konservasi serta keselamatan pengunjung dan petugas lapangan.