SULAWESI SELATAN — Kenaikan indeks kali ini tidak terlepas dari dorongan saham-saham berkapitalisasi besar. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melesat 2,96%, diikuti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang bertambah 2,26%, dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang menguat 2,77%. Di sisi lain, tekanan jual masih terlihat pada PT Map Boga Adiperkasa Tbk (MAPI) yang terkoreksi 5,03%, serta PT Surya Semesta Internusa Tbk (SMMA) dan PT Emeria Indonesia Tbk (EMAS) yang masing-masing turun 1,99% dan 1,32%.
Pelaku pasar kini mencermati agenda penting pekan depan, yaitu evaluasi FTSE Russell terhadap status pembekuan (freeze) Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 10-14 Agustus 2026. Hasil peninjauan ulang tersebut diperkirakan diumumkan pada 21 Agustus dan akan mulai berlaku efektif pada 18 September.
Ekspektasi positif terhadap perubahan status ini sudah terlihat dari pergerakan ETF EIDO yang naik 2,38% dan indeks MSCI Indonesia yang menguat 1,13%. Sektor infrastruktur menjadi pemimpin kenaikan dengan apresiasi 2,17%, sementara sektor konsumer siklikal menjadi satu-satunya sektor yang melemah 0,69%.
Langkah ini akan dibarengi dengan pengembangan produk berbasis protein melalui lini Marinova. Manajemen menargetkan produk tersebut mulai memberikan kontribusi terhadap pendapatan pada kuartal I-2027. Hingga semester I-2026, RLCO membukukan laba bersih Rp20,37 miliar, naik 13,35% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp17,97 miliar. Pendapatan perseroan tercatat stabil di angka Rp272 miliar.
PBC diproyeksikan menyumbang US$2,60 miliar dengan asumsi harga jual batu bara US$62 per ton dan produksi kumulatif 42 juta ton. Sementara CBP diperkirakan menghasilkan US$656 juta dengan asumsi harga jual US$82 per ton dan produksi 8 juta ton. PBC ditargetkan melakukan first cut pada kuartal IV-2026, sedangkan CBP mulai beroperasi pada semester II-2027.
Meski pembangunan hauling road CBP telah mencapai 83,74%, perseroan masih menghadapi tantangan pembebasan lahan. Realisasi pembebasan lahan untuk PBC baru mencapai 45%, sedangkan CBP baru 15%.
Dividen interim tersebut setara dengan dividend payout ratio 48,67% dari laba bersih semester I-2026. Berdasarkan harga penutupan saham EAST di level Rp93 per saham, dividen ini memberikan dividend yield sebesar 2,15%. Cum date di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 10 Agustus 2026, dengan jadwal pembayaran pada 28 Agustus 2026.