GOWA — Dua bulan sudah berlalu, keluarga kapten kapal asal Gowa yang disandera perompak Somalia masih belum mendapatkan kepastian. Kerabat korban akhirnya angkat bicara mengenai kondisi terkini yang mereka alami selama masa penantian yang mencekam ini.
Menurut keterangan keluarga, komunikasi dengan sang kapten kapal terputus total sejak peristiwa penyanderaan terjadi di perairan Somalia. Tidak ada panggilan telepon, pesan singkat, atau kabar apa pun yang bisa masuk maupun keluar dari lokasi penyitaan.
“Kami tidak tahu pasti bagaimana kondisi beliau sekarang. Yang kami tahu, kapal dan seluruh awaknya sudah dikuasai perompak,” ujar salah satu perwakilan keluarga yang enggan disebutkan namanya, dikutip dari laporan media setempat.
Keluarga mengaku sudah berulang kali meminta bantuan kepada pihak pemerintah, baik tingkat daerah maupun pusat. Namun hingga saat ini, belum ada titik terang soal proses negosiasi dengan kelompok perompak.
“Kami hanya bisa berdoa dan berharap ada langkah konkret dari pemerintah untuk membebaskan beliau. Jangan sampai ini berlarut-larut tanpa kejelasan,” tambahnya.
Perompak Somalia dikenal kerap menyita kapal kargo dan awaknya untuk kemudian meminta tebusan dalam jumlah besar. Proses negosiasi biasanya berlangsung berbulan-bulan, bahkan ada yang sampai lebih dari setahun.
Kapten kapal asal Gowa itu disebut-sebut sudah malang melintang di dunia pelayaran internasional selama puluhan tahun. Ia dikenal sebagai pelaut yang berpengalaman dan sudah berkali-kali melewati rute berbahaya di kawasan Teluk Aden dan perairan Somalia.
Namun pengalaman panjang itu tak cukup untuk menghindari serangan kelompok bersenjata yang kini menyandera dirinya dan awak kapal. Perompak Somalia memang dikenal kerap menyasar kapal-kapal besar yang melintas tanpa pengawalan ketat.
Kasus penyanderaan oleh perompak Somalia memiliki pola yang rumit. Selain karena medan yang sulit dijangkau, proses negosiasi seringkali melibatkan perantara dari berbagai pihak. Pemerintah Indonesia sendiri memiliki keterbatasan dalam menjangkau langsung lokasi penyanderaan di Afrika Timur.
Belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri RI mengenai perkembangan kasus ini. Keluarga berharap pemerintah bisa lebih proaktif, setidaknya memberikan informasi rutin soal proses yang sedang berjalan.