SULAWESI SELATAN — Instruksi mendadak dari badan sepak bola dunia itu juga mencakup perubahan warna emas pada nama dan nomor punggung pemain. Permintaan ini datang di saat persiapan Mesir sudah memasuki tahap akhir, memicu spekulasi liar di kalangan publik dan pengamat sepak bola.
Bagi penggemar sepak bola Afrika, tujuh bintang di jersey Mesir memiliki bobot historis yang tak main-main. Simbol itu merupakan representasi langsung dari dominasi mereka di Piala Afrika sepanjang masa—menjadikan Mesir sebagai negara dengan koleksi gelar kontinental terbanyak.
Rencana penghapusan simbol ini langsung memicu perdebatan sengit di media sosial. Sebagian suporter menilai FIFA seharusnya menghormati pencapaian historis sebuah federasi, bukan justru menghapusnya di bawah regulasi perlengkapan yang dinilai terlalu kaku.
Hingga berita ini diturunkan, FIFA maupun Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) belum mengeluarkan pernyataan resmi. Tak ada penjelasan soal dasar regulasi yang menjadi acuan larangan tersebut, membuat ruang spekulasi semakin terbuka lebar.
Ada yang menduga langkah ini bagian dari upaya FIFA menerapkan standar seragam bagi seluruh kontestan Piala Dunia. Namun, tak sedikit yang menilai keputusan itu terlalu mendadak dan tidak sensitif terhadap nilai budaya tim peserta.
Di tengah hiruk-pikuk kontroversi jersey, skuad asuhan pelatih Mesir tetap memusatkan konsentrasi pada laga pembuka grup melawan Belgia. Mohamed Salah dan rekan-rekannya disebut tak ingin polemik administratif mengganggu ritme persiapan mereka.
Meski demikian, publik masih menanti klarifikasi resmi dari FIFA. Polemik ini menjadi salah satu kontroversi awal yang mewarnai fase grup Piala Dunia 2026, mengingat nilai emosional yang melekat pada tujuh bintang di dada kiri pemain Mesir.