MAKASSAR — Tenda biru Warung Pallubasa Serigala yang legendaris di Jalan Serigala, Kecamatan Mamajang, akhirnya runtuh. Bangunan liar yang berdiri di atas trotoar dan menutup drainase itu dibongkar setelah menguasai lahan fasilitas umum sejak 1987.
"Alhamdulillah, sudah dibongkar sendiri oleh pemilik warung tadi malam dengan pengawasan kami," kata Camat Mamajang Muhammad Rizal di Makassar, Jumat kemarin.
Proses pembongkaran melibatkan tim dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Makassar untuk memastikan lahan negara benar-benar steril. Pembersihan berlanjut pada sisa-sisa cor beton penutup drainase yang masih tersisa.
Pemerintah kecamatan sebenarnya telah memberikan tenggat waktu longgar. Pemilik warung Pallubasa Serigala meminta izin untuk membongkar sendiri pada 18 Juni 2026—memberi jarak hampir setahun sejak teguran pertama.
Namun, pihak kecamatan memilih bertindak lebih cepat. Sebelumnya, mereka telah memberikan teguran lisan, lalu teguran tertulis, dan ancaman pembongkaran paksa. Semua diabaikan.
"Saya bingung kenapa setelah sudah ada tempatnya (pemilik sudah membeli ruko di seberang jalan), warung tenda itu masih berdiri. Saya kurang tahu kenapa bisa dipertahankan," ujar Rizal, heran.
Pemicu pembongkaran mendadak adalah viralnya video penertiban Warung Pallubasa Onta—saudara dari warung ini yang juga menguasai trotoar di Jalan Onta. Publik kemudian menyoroti Warung Pallubasa Serigala yang kondisinya serupa.
Warung Pallubasa Onta sudah lebih dulu dibongkar setelah pemiliknya membeli ruko di samping tendanya. Pola yang sama terjadi di Serigala: pemilik sudah punya tempat baru, tapi tenda lama tetap dipertahankan.
Bukan hanya soal trotoar, penertiban ini membuka persoalan lain. Hasil pengecekan petugas di lokasi menunjukkan adanya dugaan pembuangan sisa minyak goreng bekas dan limbah produksi langsung ke saluran drainase.
Camat Rizal mengaku telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup untuk menentukan langkah penanganan pencemaran tersebut. "Persoalan limbah ini yang belum selesai," katanya.
Dengan dibongkarnya warung ini, trotoar di Jalan Serigala kini kembali terbuka untuk pejalan kaki. Drainase yang selama tiga dekade tersumbat juga mulai mengalir normal. Warga sekitar berharap penertiban serupa dilakukan secara konsisten di titik-titik lain di Makassar.