SULAWESI SELATAN — Angka ini memang masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, tren penurunan bulanan yang terjadi dua kali berturut-turut membuat pengamat was-was. Apalagi pemerintah baru saja mengerek harga bahan bakar minyak (BBM) per 10 Juni 2026, yang dipastikan akan menekan daya beli lebih dalam.
Menurut Yannes Martinus Pasaribu, Akademisi dan Pengamat Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), kenaikan harga BBM akan berdampak paling keras pada segmen premium dan Sport Utility Vehicle (SUV). Alasannya, sebagian besar mobil di segmen ini menggunakan bahan bakar Pertamax yang harganya sudah naik.
“Biaya operasionalnya naik tajam. Konsumen yang tadinya berniat upgrade ke mobil besar pasti pikir ulang,” ujar Yannes kepada KatadataOTO, Rabu (10/06).
Di tengah tekanan ini, segmen Low Cost Green Car (LCGC) diproyeksikan tetap bertahan. Mobil-mobil murah itu masih bisa mengisi Pertalite yang belum mengalami penyesuaian harga. Kombinasi ini membuat LCGC menjadi opsi paling rasional bagi konsumen yang ingin menekan biaya harian.
Yannes menambahkan, penurunan penjualan ini bukan semata-mata karena BBM. Ada tiga tekanan besar yang bekerja bersamaan: inflasi Mei yang naik ke 3,08 persen, suku bunga acuan BI Rate yang masih bertahan di 5,5 persen, dan nilai tukar rupiah yang terus melemah.
“Kombinasi ini membuat proyeksi penurunan penjualan berlanjut setidaknya hingga Agustus 2026,” tegasnya. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa situasi bisa berubah tergantung pada tren harga minyak dunia dan kebijakan ekonomi makro ke depan.
Ada secercah harapan di segmen kendaraan ramah lingkungan. Di saat konsumen mulai rasional memilih kendaraan, efisiensi energi menjadi pertimbangan utama. Yannes memproyeksikan pangsa pasar mobil listrik dan hybrid akan terus naik meskipun volume penjualan secara keseluruhan stagnan atau turun.
“Pergeseran preferensi ke efisiensi energi sedang terjadi. Ini momentum bagi kendaraan ramah lingkungan untuk memperkuat posisinya di pasar,” pungkasnya.