SULAWESI SELATAN — AMMAN mengandalkan sistem bernama 3D Particle Size Measurement (3DPM) yang bekerja dengan prinsip laser triangulation. Alat ini dipasang di titik kritis sebelum material memasuki SAG Mill, mesin penggiling raksasa yang menghaluskan batuan bijih menjadi partikel kecil untuk proses pemisahan mineral.
Victor, Achmad dari tim Metalurgi AMMAN menjelaskan, sistem ini memindai bentuk, ukuran, dan volume objek secara real-time. Hasilnya jauh lebih presisi ketimbang kamera dua dimensi (2D) yang sebelumnya dipakai.
“Sistem 2D punya keterbatasan visual, apalagi saat pencahayaan berubah atau warna material hampir sama. Dengan 3DPM, kami bisa mendeteksi objek berbahaya lebih dini,” ujar Victor dalam keterangan resmi, Senin (8/6).
Di antara puluhan ribu ton bijih yang mengalir lewat conveyor, kadang terbawa material asing non-batuan atau bongkahan berukuran ekstrem (oversize objects). Jika lolos hingga ke SAG Mill, benda-benda ini berpotensi menyumbat aliran atau merusak mesin.
Gangguan semacam itu tak cuma bikin produksi terhambat, tapi juga memicu biaya perbaikan besar dan waktu henti (downtime) yang merugikan. Dengan data dari 3DPM, operator punya cukup waktu untuk mengambil tindakan pencegahan sebelum material bermasalah masuk ke penggiling.
Penerapan teknologi ini memberikan operator visibilitas yang lebih baik. Informasi yang lebih akurat memungkinkan pengambilan keputusan lebih cepat dan tepat, sekaligus menekan potensi gangguan operasional.
“Inovasi lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Kami tidak sekadar mengadopsi, tapi juga mengembangkan teknologinya agar sesuai kondisi operasional kami. Hasilnya proses lebih andal, efisien, dan risiko operasional lebih terkendali,” tambah Victor.
AMMAN menilai inovasi ini menjadi contoh bagaimana perusahaan tambang bisa memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan keunggulan operasional. Selain menjaga ritme produksi tetap konsisten, sistem ini juga mendukung praktik pertambangan yang lebih aman dan berkelanjutan.
Tambang Batu Hijau sendiri merupakan salah satu operasi tembaga-emas terbesar di Indonesia. Dengan volume olahan mencapai nyaris 100.000 ton bijih per hari, keandalan setiap mata rantai proses menjadi kunci menjaga target produksi tetap on track.