SULAWESI SELATAN — Potter kini tengah mempersiapkan skuadnya di kamp pelatihan Stockholm sebelum terbang ke Texas untuk pemusatan latihan. Pelatih berusia 51 tahun itu memperpanjang kontraknya hingga 2030, menandai komitmen jangka panjangnya terhadap proyek sepak bola Swedia.
Karier Potter nyaris runtuh setelah dua pengalaman pahit di Premier League. Ia hanya bertahan tujuh bulan di Chelsea setelah meninggalkan Brighton pada September 2022. Setelah jeda panjang, ia kembali tergoda menangani West Ham pada awal 2024—keputusan yang kemudian ia sesali.
"Saya terjebak dalam disfungsi West Ham," ujar Potter. Ia hanya memenangi enam dari 25 pertandingan, dan dipecat pada September 2024 setelah start buruk di musim penuhnya.
Alih-alih tenggelam dalam kritik, Potter memilih bangkit. "Setelah West Ham, saya punya dua pilihan: duduk diam dan jadi komentator, atau bekerja," katanya. Panggilan dari Swedia datang tepat waktu.
Swedia dalam posisi sulit di grup kualifikasi saat Potter mengambil alih pada Oktober 2024. Namun, performa di Nations League memberi mereka tiket playoff. Di semifinal, Viktor Gyökeres mencetak hattrick saat Swedia mengalahkan Ukraina 3-1.
Partai final melawan Polandia di Stockholm berlangsung menegangkan. Gyökeres kembali menjadi pahlawan dengan gol kemenangan di menit ke-88. "Saya menonton ulang rekaman komentator Swedia di YouTube. Emosinya luar biasa. Semua pemain cadangan berlari ke lapangan. Ada 15 pemain di lapangan—saya hanya mikir itu kartu kuning," kenang Potter sambil tertawa.
Ini bukan kali pertama Potter berkaitan dengan Swedia. Ia mengukir namanya bersama Östersund selama tujuh tahun, membawa klub dari kasta keempat hingga ke Liga Europa. Dua anaknya lahir di Swedia. "Saya merasa sangat Swedia saat bekerja. Penampilan saya juga sedikit mirip orang Swedia," ujarnya.
Bagi Potter, melatih tim nasional memiliki makna lebih dalam. "Anda sadar melakukan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Intensitasnya terasa. Itulah indahnya," katanya.
Potter mengakui adaptasi ke level internasional tidak mudah, terutama bagi pelatih yang terbiasa membangun tim secara metodis. "Anda tidak punya banyak waktu untuk mengembangkan ide. Kami hanya punya dua hari persiapan untuk satu pertandingan playoff. Tidak boleh terlalu rumit," jelasnya.
Ia juga harus melakukan percakapan sulit dengan pemain yang tidak masuk skuad Piala Dunia. "Bahkan dalam latihan 11 lawan 11, ada empat pemain yang jadi penonton. Tidak mudah. Tapi Anda ingin grup tetap satu arah," tambahnya.
Swedia akan menjadi lawan berat di Piala Dunia 2026. Dengan sejarah finis ketiga di edisi 1994, ekspektasi publik tinggi. Potter sadar beban itu. Tapi setelah menerjang badai di Inggris, ia punya modal mental yang berbeda. "Anda harus menghadapi hal buruk. Semakin Anda menghadapinya, semakin besar peluang hidup Anda lebih baik," pungkasnya.