Program EV-GO Target Konversi Motor Listrik di Bali, Fasilitas Terbatas Jadi Kendala Utama

Penulis: Ramli Siregar  •  Jumat, 05 Juni 2026 | 03:03:01 WIB
Program EV-GO lakukan uji coba konversi motor listrik di Bali dengan dukungan pemerintah setempat.

SULAWESI SELATAN — Program EV-GO yang digagas oleh ekosistem EV-READY Group menjadikan Pulau Dewata sebagai lokasi uji coba pertama. Langkah ini mendapat dukungan dari Gubernur Bali, Wayan Koster, dan Dinas Tenaga Kerja dan Energi Sumber Daya Mineral (Disnaker ESDM) Provinsi Bali. Dukungan tersebut dikonfirmasi melalui publikasi resmi di akun Instagram @evready.global dan @disnakeresdm.

Kapasitas Bengkel Konversi Masih Jauh dari Cukup

Raine Renaldi mengungkapkan tantangan paling mendasar bukan terletak pada teknologi motor listrik itu sendiri, melainkan pada ekosistem pendukung yang belum siap. "Fasilitas dan infrastruktur yang tersedia saat ini diperkirakan baru mampu memenuhi kurang dari 1 persen kebutuhan untuk mengkonversi lebih dari 120 juta sepeda motor yang beroperasi di Indonesia," jelasnya di Bandung, Kamis (4/6).

Ia menambahkan, program konversi jutaan motor tidak bisa dijalankan oleh satu atau dua pihak. Ada lima tingkatan yang harus terlibat: produsen atau manufaktur, distributor pemegang merek, bengkel konversi berkapasitas industri, infrastruktur publik seperti stasiun penukaran baterai, dan masyarakat sebagai pengguna akhir.

Bali Dipilih karena Regulasi dan Komitmen Energi Bersih

Pemilihan Bali sebagai pilot project bukan tanpa alasan. Menurut Raine, provinsi ini dinilai memiliki kesiapan regulasi dan komitmen terhadap energi bersih yang lebih maju dibanding daerah lain. Pada tahap awal, EV-GO telah melakukan presentasi teknologi dan penjajakan kolaborasi dengan pemerintah daerah setempat serta pemangku kepentingan terkait.

Program ini mengusung konsep percepatan konversi kendaraan roda dua berbasis mesin pembakaran internal menjadi kendaraan listrik. "Program ini tidak hanya berfokus pada kendaraan, tetapi juga mendorong pembangunan jaringan bengkel konversi berskala besar, pengembangan sumber daya manusia di bidang kendaraan listrik, serta pembangunan infrastruktur energi pendukung," papar Raine.

Peluang Ekonomi dari Industri Hijau

Selain soal pengurangan emisi karbon, konversi massal ini diproyeksikan membuka lapangan kerja baru. Mulai dari industri konversi kendaraan, manufaktur komponen lokal, hingga pengembangan ekosistem penukaran baterai (swap battery). Raine optimistis, jika ekosistem ini terbangun secara nasional, Indonesia berpeluang menjadi pusat industri kendaraan listrik dan konversi EV terbesar di Asia Tenggara.

Di sisi lain, pasar motor listrik nasional mulai menunjukkan tren positif. Indomobil Group mencatat total penjualan sepeda motor listrik produknya sudah mencapai 17 ribu unit, dengan 3.000 unit di antaranya dipasarkan di Jawa Barat. Masyarakat disebut semakin melirik motor listrik karena model yang variatif dan harga yang lebih terjangkau dibanding motor berbahan bakar minyak.

Reporter: Ramli Siregar
Sumber: mediaindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top