SULAWESI SELATAN — Data perdagangan mencatat IHSG melemah 0,91 persen ke posisi 6.140 setelah sempat menyentuh level tertinggi di awal sesi. Perputaran dana pada transaksi awal mencapai Rp2,1 triliun dengan volume 3,09 miliar saham, menandakan likuiditas yang cukup tinggi meskipun sentimen pasar cenderung bearish.
Dari 11 indeks sektoral, hanya empat sektor yang mampu bertahan di zona hijau, yakni energi, properti, industri, dan kesehatan. Sektor energi menjadi penopang utama indeks di tengah tekanan jual yang meluas.
Sisanya, tujuh sektor lainnya tertekan. Sektor konsumer siklikal, infrastruktur, bahan baku, teknologi, konsumer non siklikal, keuangan, dan transportasi semuanya tercatat melemah. Pelemahan di sektor keuangan dan teknologi menjadi beban utama bagi IHSG mengingat kapitalisasi pasarnya yang besar.
Kondisi pasar yang tidak kondusif tercermin dari rasio saham. Tercatat hanya 198 saham yang berada di zona hijau, sementara 380 saham melemah dan 381 saham lainnya stagnan. Artinya, lebih dari separuh saham yang diperdagangkan mengalami tekanan jual.
Indeks-indeks acuan lainnya juga kompak melemah. LQ45 turun 0,28 persen ke 617, JII melemah 0,26 persen ke 376, IDX30 terkoreksi 0,21 persen ke 348, dan MNC36 melemah 0,17 persen ke 269.
Meskipun mayoritas saham tertekan, beberapa saham justru mencatatkan kenaikan signifikan dan masuk jajaran top gainers. PT DFI Retail Nusantara Tbk (HERO) memimpin dengan kenaikan paling tajam, diikuti oleh PT Arthavest Tbk (ARTA) dan PT Pudjiadi & Sons Tbk (PNSE).
Kenaikan ketiga saham ini terjadi di tengah minimnya katalis positif dari sektor korporasi, sehingga pergerakannya lebih didorong oleh aksi beli spekulatif jangka pendek.
Pergerakan IHSG pada sesi berikutnya akan sangat bergantung pada aksi investor asing serta pergerakan indeks di bursa regional. Data perdagangan lanjutan perlu dicermati untuk melihat apakah tekanan jual akan berlanjut atau mulai ada aksi bargain hunting.