SULAWESI SELATAN — Pengembangan desa wisata ini tidak hanya mengejar kunjungan wisatawan. Tradisi masyarakat tetap dijaga, sementara perekonomian warga ikut digerakkan lewat berbagai produk dan pengalaman wisata.
Dari sisi alam, pengunjung bisa menyusuri sungai alami, mata air, dan hamparan persawahan. Ada juga aktivitas jelajah desa yang memperkenalkan kehidupan pedesaan secara lebih dekat.
Sektor budaya jadi kekuatan lain. Grogol mempertahankan upacara adat midhang atau nyadran, wiwitan, karawitan, jathilan, serta pentas wayang kulit, wayang orang, dan ketoprak.
Kekayaan budaya itu tidak dibiarkan berhenti sebagai warisan. Warga mengemasnya menjadi bagian dari pengalaman wisata dan pembelajaran bagi pengunjung yang datang.
Wisata buatan dikembangkan lewat wahana outbound serta kolam renang alami. Keduanya jadi alternatif rekreasi bagi wisatawan yang datang bersama keluarga.
Potensi itu dipadukan dengan ekonomi kreatif masyarakat. Produk dan keterampilan lokal yang dikembangkan mencakup wayang suket, batik, kerajinan janur, jamu tradisional, gerabah tradisional, hingga kuliner khas desa.
Salah satu kuliner yang terus dikenalkan adalah cethil. Makanan tradisional ini dahulu lebih banyak hadir dalam upacara adat pemidhangan. Tradisi wiwitan yang erat dengan kehidupan agraris juga dikembangkan menjadi daya tarik wisata.
Pengembangan desa wisata ini berawal dari keinginan masyarakat. Kegiatan budaya yang selama ini digelar dinilai belum memberi manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
Sejumlah tokoh masyarakat lalu menggagas kegiatan yang bisa menggerakkan perekonomian warga. Dari situ, berbagai potensi desa dikemas lebih terarah.
Dalam pengembangannya, Desa Wisata Grogol memakai prinsip ALUI, yakni Asli, Lokal, Unik, dan Indah. Pengelolaan juga memperhatikan aspek kebersihan, kesehatan, keamanan, dan kelestarian lingkungan melalui prinsip CHSE.
Bendahara Desa Wisata Grogol, Esthi Handayani, mengatakan pengembangan wisata diarahkan untuk menghadirkan destinasi berkualitas. Keseimbangan antara pengalaman wisatawan, lingkungan, budaya, dan kesejahteraan masyarakat tetap dijaga.
“Tujuan Desa Wisata Grogol adalah menjadi destinasi wisata berkualitas yang mengutamakan pengalaman pengunjung tanpa mengorbankan lingkungan, budaya, dan kesejahteraan warga,” kata Esthi ketika dihubungi.
Selain Desa Wisata Grogol yang masuk 15 besar WIA 2026, Esthi juga terpilih sebagai salah satu dari 50 besar kandidat Local Hero in Tourism atau Pejuang Pariwisata dalam ajang yang sama.
Esthi berharap pencapaian tersebut membuat Desa Wisata Grogol semakin dikenal, termasuk hingga mancanegara. Kunjungan wisatawan diharapkan meningkat dan memberi dampak ekonomi lebih besar bagi masyarakat.
“Pengakuan tersebut memperkuat peran masyarakat lokal sebagai penggerak utama dalam keberlanjutan desa wisata,” katanya.
Desa Wisata Grogol berada di kawasan Sleman Barat, dapat dijangkau dari pusat Kota Yogyakarta melalui Seyegan. Untuk jadwal kegiatan budaya, paket outbound, jam operasional, dan tarif masuk, informasi terkini dapat dikonfirmasi via dinas pariwisata setempat atau pengelola desa wisata.
Waktu terbaik berkunjung adalah saat musim panen atau ketika agenda budaya seperti wiwitan dan nyadran digelar, karena pengunjung bisa melihat langsung tradisi agraris yang masih hidup.
Durasi ideal kunjungan setengah hari hingga sehari penuh. Itu cukup untuk jelajah desa, mencoba satu-dua aktivitas, dan menutupnya dengan kuliner khas desa.