Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Anak Usia 6-12 Tahun di Sekolah

Penulis: Tedy Rustandi  •  Rabu, 09 September 2026 | 09:23:01 WIB
Seorang anak mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas sebagai bagian dari upaya deteksi dini tumbuh kembang di sekolah dasar.

SULAWESI SELATAN — Masa sekolah dasar adalah fase krusial bagi perkembangan anak. Di usia ini, berbagai potensi gangguan tumbuh kembang mulai terlihat jelas, terutama saat anak bersosialisasi dan mengikuti aturan di lingkungan sekolah. Sayangnya, tidak semua orang tua atau guru menyadari bahwa perilaku tertentu bisa menjadi indikasi kondisi yang membutuhkan penanganan khusus.

Mengenali Jenis-Jenis Gangguan Tumbuh Kembang

Arif Budhi Santoso, pemilik Sekolah Anak Autis & Special Need DALTA OZORA Madiun, menjelaskan bahwa gangguan ini tidak melulu soal kesulitan akademik. Cakupannya luas, meliputi perilaku, cara berinteraksi, hingga kemampuan anak mengikuti regulasi di sekolah.

Beberapa jenis disabilitas yang mungkin terkait antara lain:

  • Disabilitas intelektual, seperti Down syndrome atau pengaruh riwayat kejang dan trauma otak.
  • Disabilitas mental dan perilaku, termasuk gangguan kecemasan dan conduct disorder.
  • Disabilitas fisik dan sensori, seperti gangguan pendengaran.
  • Gangguan belajar spesifik, misalnya disleksia, diskalkulia, dan disgrafia.

Disleksia dan Kesulitan Belajar Lainnya

Disleksia adalah salah satu gangguan belajar yang paling umum ditemui. Kondisi ini membuat anak kesulitan membaca, menggabungkan huruf, memahami tulisan, atau menangkap maksud dari sebuah bacaan dan pertanyaan.

Selain itu, ada diskalkulia yang berkaitan dengan kesulitan memahami angka dan konsep matematika, serta disgrafia yang memengaruhi kemampuan menulis. Anak dengan kondisi ini sering kali dianggap malas atau kurang pintar, padahal otaknya memproses informasi secara berbeda.

Saat Kecerdasan Baik tapi Perilaku Bermasalah

Menariknya, sebagian anak dengan gangguan perilaku justru memiliki kemampuan intelektual yang cukup baik. Namun, gangguan kesehatan mental seperti kecemasan atau mood disorder membuat mereka kesulitan mengikuti pelajaran dan berinteraksi.

Arif menyoroti bahwa anak-anak ini kerap mendapat label "anak nakal" karena mudah marah, overaktif, atau mengganggu suasana belajar. Padahal, perilaku tersebut bisa jadi cara mereka berkomunikasi tentang ketidakmampuan mengelola emosi atau rasa cemas yang berlebihan. Kondisi ini juga bisa memicu anak cepat bosan sehingga nilainya berada di bawah rata-rata potensinya.

Tanda Bahaya yang Perlu Diwaspadai Orang Tua dan Guru

Orang tua dan guru perlu jeli mengamati perubahan perilaku anak di rumah maupun sekolah. Arif menyarankan untuk waspada jika muncul tanda-tanda berikut:

  • Penurunan prestasi akademik yang sebelumnya baik.
  • Kesulitan berteman dan cenderung menyendiri.
  • Tidak memahami perintah sederhana dari guru atau orang tua.
  • Tiba-tiba enggan berbicara atau berhenti berkomunikasi.
  • Kemunduran dalam kemampuan kemandirian, seperti yang sebelumnya sudah bisa dilakukan sendiri menjadi tidak mau melakukannya.

Perubahan ini tidak boleh langsung dianggap sebagai kenakalan atau kemalasan. Gangguan tumbuh kembang tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui proses yang bisa diamati dari berbagai aspek kehidupan anak.

Kapan Harus Konsultasi ke Ahli?

Jika tanda-tanda di atas muncul dan berlangsung terus-menerus, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter anak, psikolog, atau psikiater anak. Penanganan dini memberikan peluang lebih besar bagi anak untuk mengembangkan potensinya secara optimal.

Pengamatan menyeluruh sangat diperlukan, mencakup sisi akademik, perilaku, komunikasi, interaksi sosial, hingga kemandirian anak. Dengan pemahaman yang tepat, orang tua dan guru dapat bekerja sama memberikan dukungan terbaik bagi tumbuh kembang anak.

Reporter: Tedy Rustandi
Sumber: rri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top