SULAWESI SELATAN — Pekan ini menjadi periode positif bagi pasar saham domestik. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik dari posisi 6.518,121 pada pekan sebelumnya menjadi 6.636,475. Kapitalisasi pasar bursa pun ikut tumbuh 1,47% menjadi Rp 11.599 triliun seiring dengan penguatan indeks.
Aktivitas perdagangan tercatat meningkat signifikan. Rata-rata volume transaksi harian melonjak 35,9% menjadi 48,99 miliar saham, sementara nilai transaksi harian naik 25,75% menjadi Rp 19,22 triliun. Frekuensi transaksi harian juga bertambah 10,93% menjadi 2,39 juta kali.
Meski indeks menghijau, data BEI menunjukkan investor asing masih mencatatkan jual bersih Rp 29,76 miliar sepanjang pekan berjalan. Secara kumulatif sejak awal tahun, aksi jual asing telah mencapai Rp 68,05 triliun, menandakan tekanan di pasar masih tetap ada meski terjadi reli.
Pergerakan saham individual pekan ini cukup volatil. Berikut lima emiten yang mencatatkan penguatan paling tajam:
Kenaikan saham-saham tersebut umumnya terjadi di luar sektor perbankan besar dan lebih banyak didorong oleh aksi korporasi atau permintaan spekulatif jangka pendek. Investor perlu mencermati fundamental emiten sebelum mengambil posisi, karena pergerakan saham berkapitalisasi kecil cenderung lebih fluktuatif.
Di sisi lain, PT Kian Santang Muliatama Tbk (RGAS) menjadi emiten dengan penurunan terdalam sepanjang pekan ini. Meski data BEI tidak merinci besaran persentase penurunan secara spesifik dalam keterangan resminya, pelemahan RGAS menjadi penyeimbang di tengah mayoritas saham yang menguat.
P.H. Sekretaris Perusahaan BEI, Aulia Noviana Utami Putri, dalam keterangan resminya Sabtu (5/8/2026) menyampaikan bahwa pergerakan IHSG mengalami peningkatan 1,82% dan ditutup pada level 6.636,475. Peningkatan aktivitas perdagangan juga tercermin dari seluruh indikator utama yang mencatatkan pertumbuhan.
Penguatan IHSG pekan ini terjadi di tengah minimnya sentimen negatif dari domestik, namun investor asing masih memilih untuk merealisasikan keuntungan. Kondisi ini menciptakan pola di mana penguatan indeks lebih banyak ditopang oleh investor domestik.
Bagi pelaku pasar, mencermati pergerakan nilai tukar dan kebijakan suku bunga global tetap menjadi kunci. Data jual bersih asing yang konsisten sejak awal tahun menunjukkan bahwa fundamental makro masih menjadi pertimbangan utama investor institusi asing dalam menempatkan dana di pasar Indonesia.
Dengan volatilitas yang masih tinggi, investor disarankan untuk selektif dalam memilih saham, terutama pada emiten dengan likuiditas tipis yang mendominasi daftar top gainers pekan ini. Investasi mengandung risiko.