MAKASSAR — Pengakuan internasional kembali diterima Pemerintah Kota Makassar di bidang pembangunan perkotaan. Kota ini resmi diundang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk berbagi praktik baik dalam Forum Kota Sehat ke-11 yang berlangsung di Kensington, Kampus University of New South Wales (UNSW), Sydney, Australia.
Keikutsertaan Makassar di forum bergengsi itu menegaskan posisinya sebagai satu-satunya perwakilan dari Pulau Sulawesi. Pemkot mengirimkan Asisten III Bidang Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Makassar, Dr Firman Hamid Pagarra, didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr Nursaidah.
Di hadapan peserta dari berbagai negara, Firman memaparkan tantangan yang dihadapi Makassar, mulai dari tekanan urbanisasi, kepadatan penduduk, hingga perubahan iklim. Menurut dia, konsep kota sehat tidak bisa hanya bertumpu pada pembangunan rumah sakit atau layanan kesehatan semata.
“Kota sehat yang kita bangun bukan hanya orangnya yang sehat, tetapi juga lingkungan yang sehat,” ujar Firman dalam paparannya, seperti dikutip dari rilis yang diterima redaksi.
Firman menegaskan bahwa kondisi lingkungan, ketahanan pangan, pengelolaan sampah, dan kecepatan pelayanan publik merupakan pilar penting yang tak terpisahkan dalam membangun kota sehat.
Salah satu praktik unggulan yang dibawa Makassar adalah pengembangan urban farming. Program ini diposisikan sebagai strategi ketahanan pangan sekaligus instrumen pengelolaan lingkungan dan pengurangan sampah.
“Urban farming menjadi salah satu bagian dari upaya ketahanan pangan sekaligus mendorong pengelolaan lingkungan dan sampah menuju Makassar zero waste,” ungkap Firman.
Inovasi ini dinilai relevan dengan tantangan global mengenai ketahanan pangan di tengah kepadatan penduduk perkotaan.
Selain sektor pangan, Pemkot Makassar juga memamerkan transformasi digital pelayanan publik lewat super apps Lontara+. Sebelum integrasi, setiap organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkup Pemkot Makassar memiliki aplikasi pelayanan masing-masing dengan total mencapai sekitar 358 aplikasi.
Puluhan aplikasi yang tersebar itu kini diintegrasikan ke dalam satu platform bernama Lontara+. Konsep ini dirancang untuk memperkuat layanan di berbagai bidang, termasuk kesehatan.
“Ketika masyarakat menyampaikan laporan ke Lontara+, lalu diteruskan kepada OPD terkait, termasuk Dinas Kesehatan, untuk mendapatkan tindak lanjut di lapangan,” jelas Firman.
Ia menambahkan bahwa teknologi harus membuat pemerintah semakin dekat dengan masyarakat, bukan justru mempersulit akses layanan. “Teknologi harus membuat pemerintah semakin dekat dengan masyarakat, bukan justru membuat pelayanan menjadi semakin rumit,” lanjutnya.
Di akhir pemaparannya, Firman menyampaikan visi Pemkot Makassar membangun sistem kesehatan yang inklusif. Pemerintah kota ingin memastikan layanan kesehatan mudah diakses, tepat, dan gratis tanpa membedakan usia maupun latar belakang warga.
Layanan tersebut menyasar seluruh lapisan, mulai dari anak-anak hingga lansia, dengan harapan setiap warga memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan optimal.
Forum Kota Sehat ke-11 di Sydney menjadi ajang bagi Makassar menunjukkan bahwa inovasi pembangunan kota sehat tidak hanya lahir dari kota-kota besar dunia. Dari Makassar, praktik lokal dikembangkan untuk menjawab tantangan global dalam mendorong kota yang sehat, tangguh, dan inklusif.