MAKASSAR — Syamsul Hidayat, pria kelahiran Makassar tahun 1993 itu, menuntaskan studi doktoralnya di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar hanya dalam waktu 2 tahun 11 bulan 30 hari. Ia lulus dengan predikat cumlaude dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98, serta nilai rata-rata disertasi dan jawaban ujian promosi mencapai 94,10.
Di balik gelar tersebut, penelitian Syamsul mengungkap temuan menarik mengenai arah pengembangan pesantren di Sulawesi Selatan. Ia menemukan bahwa pesantren Muhammadiyah tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sosok kiai atau figur sentral.
Dalam disertasi berjudul "Peran Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah (LP2M) dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Pesantren Muhammadiyah di Sulawesi Selatan", Syamsul menyebut perubahan pola pengelolaan ini sebagai "neo-pesantren Muhammadiyah".
Model tata kelola baru ini mempertemukan kesalehan dan otoritas keilmuan pesantren dengan efisiensi manajemen modern. Perubahan tersebut ditandai dengan kepemimpinan kolektif-kolegial, pengelolaan transparan, dan sistem penjaminan mutu yang jelas.
Penelitian ini menemukan LP2M tidak sekadar menjalankan fungsi regulasi. Pembinaan dilakukan melalui kunjungan lapangan, supervisi akademik, lokakarya, coaching, hingga pendampingan daring. Monitoring dan evaluasi berjalan minimal dua kali setahun dengan mencakup kepemimpinan, kurikulum, SDM, keuangan, serta pembinaan karakter santri.
Data dari Database PontrenMu menunjukkan sekitar 42 persen guru pesantren belum memiliki sertifikasi kompetensi pedagogik. Temuan ini menjadi dasar bagi LP2M untuk menyusun pelatihan pengembangan kompetensi guru secara lebih terarah.
Pada aspek kurikulum, LP2M mengembangkan model yang menggabungkan diniyah, sains, dan Kemuhammadiyahan. Santri tetap diarahkan menguasai literatur Islam klasik dan bahasa Arab, tetapi juga dibekali keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas.
Standardisasi ini tidak lantas menyeragamkan karakter setiap pesantren. Syamsul justru memetakan potensi unggulan masing-masing lembaga, seperti Darul Arqam Cece dan Balassuka sebagai calon pusat pesantren agribisnis, serta Darul Fallah Bissoloro sebagai model Trensains.
"Syamsul Hidayat dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude," kata Rektor Unismuh Makassar Dr Ir H Abd Rakhim Nanda, MT, IPU, selaku Ketua Sidang saat membacakan keputusan.
Capraian ini menjadi bukti bahwa kaderisasi Muhammadiyah menghasilkan sumber daya manusia yang unggul. Promotor disertasi, Prof Dr H Bahaking Rama, MS, menegaskan posisi strategis pesantren bagi keberlanjutan organisasi.
"Pesantren ini adalah masa depan Muhammadiyah," ujarnya dalam pesan akademik.
Perjalanan Syamsul tidak dimulai dari ruang kuliah. Sebelumnya, ia aktif di organisasi pelajar dan kepemudaan. Ia pernah menjabat Sekretaris Umum PC IPM Pao Tombolo (2009-2011), Ketua Umum PD IPM Gowa (2012-2014), lalu Ketua Umum PW IPM Sulawesi Selatan (2016-2018). Syamsul juga aktif sebagai Wakil Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sulsel bidang kaderisasi.
Jejak pendidikannya juga lekat dengan Muhammadiyah. Setelah menamatkan Madrasah Aliyah Muhammadiyah Datarang pada 2011, ia mengikuti Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Unismuh Makassar sebelum melanjutkan studi S1, S2, hingga S3 di kampus yang sama. Kini, dengan gelar doktor ke-50 yang disandangnya, Syamsul diharapkan terus mengembangkan ilmu dan mengamalkannya bagi kemajuan pendidikan pesantren.