SULAWESI SELATAN — Persaingan melamar kerja berubah drastis. Di satu sisi, AI memudahkan siapa saja membuat resume dan surat lamaran yang tampak profesional dalam hitungan menit. Di sisi lain, para perekrut juga makin canggih — mereka tidak lagi sekadar membaca dokumen, tapi mulai memvalidasi kemampuan lewat tes terstruktur dan wawancara mendalam.
Hirevue, perusahaan yang bergerak di bidang talent assessment, merilis laporan 2026 Global AI in Hiring Report yang menunjukkan adopsi AI sudah mengakar di kedua sisi proses rekrutmen. Data ini penting dipahami siapa pun yang sedang berburu kerja — atau berencana pindah kerja dalam waktu dekat.
Hudy menegaskan garis batasnya tegas. Resume AI-assisted berawal dari pengalaman dan pencapaian nyata kandidat, lalu AI dipakai untuk merapikan bahasa agar lebih jelas dan selaras dengan deskripsi pekerjaan. Ini tidak jauh berbeda dari meminta rekan kerja atau career coach meninjau resume kita.
Masalah muncul ketika AI mulai mengisi pengalaman, skill, atau pencapaian yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kandidat. Itu yang disebut AI-generated — dan di sinilah aplikasi melewati batas etis.
"Isunya bukan apakah AI menyentuh resume, tapi apakah resume itu masih merepresentasikan orang di baliknya secara akurat," ujar Hudy.
Kesalahan paling fatal menurut Hudy adalah menggunakan AI untuk gaming the system — menjejali keyword agar lolos screening otomatis atau memproduksi narasi yang terdengar hebat tapi kosong. Teknologi rekrutmen yang berbasis sains dirancang untuk menilai kompetensi, bukan menghadiahi skrip yang terlalu mulus.
Bahkan jika seseorang berhasil melewati penyaringan awal, pada akhirnya akan ketahuan juga. "Wawancara terstruktur, asesmen skill, atau percakapan dengan hiring manager adalah momen untuk membuktikan apa yang sebenarnya kamu tahu dan bisa lakukan," kata Hudy.
Hudy menolak framing perlombaan senjata antara AI kandidat melawan AI perekrut. Justru konsekuensinya lebih menarik: resume tradisional semakin kehilangan daya sinyalnya. Ketika hampir semua orang bisa menghasilkan aplikasi yang tampak rapi, sulit membedakan kandidat hanya dari presentasi dokumen.
Inilah mengapa perusahaan mulai beralih ke wawancara terstruktur, asesmen tervalidasi, dan pendekatan berbasis skill. Keuntungan tidak lagi jatuh ke kandidat dengan prompt AI paling canggih, tapi ke proses rekrutmen yang mampu memisahkan antara penampilan dan kemampuan sejati.
Ya, kandidat bisa merugikan diri sendiri. Bukan karena kerapiannya, melainkan karena munculnya celah antara orang di atas kertas dan orang yang hadir di wawancara. Bahasa yang terlalu generik, berlebihan, atau sulit dipertahankan oleh kandidat saat ditanya detail — itu masalahnya.
Resume seharusnya menjadi sinyal yang akurat, bukan sinyal yang sempurna. Kandidat harus mampu menjelaskan pencapaian yang ditulis, menggambarkan keputusan yang diambil, dan memberikan contoh spesifik penggunaan skill mereka.
Spesifisitas adalah senjata utama. AI bisa menghasilkan bahasa yang mulus, tapi tidak bisa menggantikan riwayat nyata kandidat dalam mengambil keputusan, memecahkan masalah, bekerja sama, dan memberikan hasil.
"AI bisa membantumu menemukan kata-kata. Ia tidak bisa memberimu pengalaman di balik kata-kata itu," tegas Hudy.
Kandidat terkuat adalah mereka yang mampu mengubah pengalaman menjadi bukti konkret. Pindah industri? Sebutkan contoh nyata bagaimana kemampuan