Listrik Masuk Sawah Selamatkan Produksi Padi Sidrap dari El-Nino, Nilai Panen Capai Rp93,85 Miliar per Tahun

Penulis: Pandu Wibisono  •  Rabu, 26 Agustus 2026 | 14:17:32 WIB
Hamparan sawah di Desa Takkalasi, Kecamatan Maritengngae, tetap menghijau berkat program listrik masuk sawah yang mendukung pengoperasian pompa air.

SIDRAP — Hamparan sawah di Desa Takkalasi, Kecamatan Maritengngae, kini tetap menghijau di tengah musim kemarau. Ketua Gapoktan Mappasitujue, Mahmuddin, mengakui program tersebut menjadi penyelamat utama lahan pertanian warga yang selama ini bergantung pada air hujan.

“Kalau tidak ada bantuan listrik masuk sawah, mungkin sudah mati semua sawahnya orang di sini,” ujarnya kepada Pelopornews, Jumat (21/8/2026).

Sebelumnya, sejumlah sumur bor sebenarnya sudah tersedia di kawasan persawahan. Namun, tanpa jaringan listrik, alat pompa air tidak dapat beroperasi maksimal sehingga lahan sering kali terbengkalai saat kemarau datang.

“Sebenarnya banyak sumur bor di sini tapi tidak ada jaringan listriknya. Jadi untungnya ada inovasi ini, listrik masuk sawah,” tambah Mahmuddin.

Kolaborasi Pemda dan PLN Hadirkan 30 Titik Instalasi

Program ini merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Sidrap di bawah kepemimpinan Bupati Syaharuddin Alrif, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Kementerian Pertanian, serta PT PLN (Persero). Di sepanjang areal persawahan Takkalasi, kini berdiri sekitar 30 titik tiang listrik yang mendukung pengoperasian pompa air.

Air dari sumur dialirkan melalui jaringan pipa hingga ke lahan pertanian. Setiap titik instalasi mampu mengairi lahan seluas empat hingga lima hektare. Para petani pun kini hanya perlu mengisi voucher listrik sesuai kebutuhan untuk mengalirkan air.

“Sudah mudah sekarang. Tinggal isi voucher listrik sesuai kebutuhan, air langsung keluar,” kata Mahmuddin.

Produktivitas Naik Hingga 48 Persen

Dampak program ini langsung terlihat pada hasil panen. Produktivitas gabah di Desa Takkalasi meningkat dari sebelumnya sekitar tujuh ton per hektare menjadi 10,4 ton per hektare. Dengan luas lahan persawahan mencapai 395,80 hektare yang dikelola 13 kelompok tani, sektor pertanian menjadi penggerak utama ekonomi desa.

Penerapan pola tanam IP300 atau tiga kali tanam dalam setahun semakin memperbesar potensi produksi. Dengan harga gabah berkisar Rp7.500 hingga Rp7.600 per kilogram, satu hektare lahan berpotensi menghasilkan penerimaan kotor sekitar Rp79,04 juta dalam sekali panen.

Jika seluruh lahan ditanami dan dipanen tiga kali dalam setahun, nilai produksi gabah di desa ini diperkirakan mencapai Rp93,85 miliar per tahun.

Kepastian Air di Musim Kemarau

Kepala Desa Takkalasi, Sudarmin, menilai program ini memberikan kepastian bagi petani dalam mengelola sawah. Kehadiran listrik tidak hanya menghadirkan infrastruktur, tetapi juga menjadi energi penggerak pompa air yang menjaga roda perekonomian desa tetap berputar.

“Bantuan listrik masuk sawah ini sangat bermanfaat dan semakin meningkatkan produktivitas hasil panen petani,” kata Sudarmin.

Bagi petani Takkalasi, program ini menjadi kunci agar sawah tetap hidup dan panen tetap berlangsung meski musim kemarau mengancam. Ke depan, keberlanjutan program ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Sidrap. (*)

Reporter: Pandu Wibisono
Sumber: pelopornews.info This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top