Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto menggelar orientasi bagi kader Posyandu se-kabupaten untuk mengimplementasikan sistem pencatatan dan pelaporan terbaru di Hotel Valentine, Jumat (21/8). Kegiatan ini menyasar Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) Puskesmas dan kader dari seluruh desa dan kelurahan sebagai ujung tombak layanan kesehatan primer. Kepala Dinkes Jeneponto, Hj. Syusanty A. Mansyur, menegaskan akurasi data kader menjadi fondasi kebijakan penanganan stunting dan gizi buruk di daerah.
JENEPONTO — Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto memastikan kualitas data layanan kesehatan masyarakat akan bertumpu pada kemampuan kader Posyandu dalam melakukan pencatatan dan pelaporan. Orientasi khusus digelar di Hotel Valentine, Jumat (21/8), dengan menghadirkan Tim Kerja Kesehatan Keluarga dan Gizi (Kesga Gizi), Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) Puskesmas, serta kader Posyandu dari seluruh kecamatan.
Kepala Dinkes Jeneponto, Hj. Syusanty A. Mansyur, membuka langsung kegiatan tersebut. Ia menyebut peran kader saat ini tidak lagi sekadar menimbang balita, tetapi menjadi garda depan transformasi layanan kesehatan primer yang menjangkau seluruh siklus kehidupan.
Syusanty menekankan bahwa catatan yang dihasilkan kader di lapangan bukan sekadar administrasi rutin. Angka yang masuk dari setiap Posyandu akan menjadi bahan utama Puskesmas, Dinas Kesehatan, hingga pemerintah pusat dalam menyusun kebijakan dan mengalokasikan anggaran.
“Data yang lengkap, benar, dan tepat waktu akan menghasilkan keputusan yang tepat. Sebaliknya, data yang tidak akurat dapat menyebabkan sasaran pelayanan tidak tepat dan menghambat upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat,” ujarnya dalam sambutan.
Ia mengapresiasi dedikasi para kader yang selama ini menjadi ujung tombak program kesehatan ibu dan anak, imunisasi, gizi, hingga pencegahan stunting di tingkat desa dan kelurahan.
Melalui orientasi ini, para kader diharapkan tidak hanya memahami kebijakan terbaru, tetapi juga mampu menyampaikan laporan secara tepat waktu. Syusanty meminta agar data yang dicatat dapat dimanfaatkan sebagai dasar tindak lanjut terhadap masalah kesehatan di wilayah masing-masing.
“Saya berharap seluruh kader mampu memahami kebijakan terbaru mengenai pencatatan dan pelaporan Posyandu, melaksanakan pencatatan secara benar, lengkap, dan sesuai standar,” tegasnya.
Ia juga meminta Tenaga Pelaksana Gizi Puskesmas untuk terus memberikan pendampingan dan supervisi berkelanjutan. Hal ini dinilai krusial agar kualitas pencatatan dan pelaporan Posyandu semakin baik dan berkelanjutan pasca-pelatihan.
Syusanty mengajak seluruh pihak untuk bersinergi dengan Puskesmas, pemerintah desa, dan lintas sektor. Menurutnya, peningkatan kualitas pelayanan Posyandu tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan penuh dari para pemangku kepentingan di tingkat lokal.
“Jadikan orientasi ini sebagai kesempatan untuk menambah pengetahuan, berdiskusi, dan berbagi pengalaman sehingga setelah kembali ke wilayah masing-masing, dapat menerapkan ilmu yang diperoleh secara optimal,” harapnya.