Stok Pertalite dan Biosolar Tersisa 15 Hari, Pertamina Akui Panic Buying Picu Antrean di SPBU

Penulis: Sabar Simanjuntak  •  Jumat, 17 Juli 2026 | 11:51:31 WIB
Stok Pertalite dan Biosolar tersisa rata-rata 15 hari, Pertamina mengakui panic buying picu antrean di SPBU.
ini memicu antrean panjang di sejumlah SPBU akibat aksi panic buying dan hambatan distribusi BBM. ISI:

SULAWESI SELATAN — Wakil Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, mengakui stok Pertalite dan Biosolar berada di posisi kritis. Dalam keterangannya di Gedung DPR, Kamis (16/7/2026), ia menyebut ketahanan stok kedua produk itu rata-rata hanya 15 hari.

"Kalau stok untuk BBM nasional itu rata-rata di 14 sampai 40 hari, berbeda-beda. Sekarang Pertalite dan Biosolar rata-rata di 15 harian," ujar Taufik.

Antrean di SPBU Dipicu Panic Buying

Fenomena antrean panjang kendaraan di berbagai SPBU daerah bukan semata-mata karena stok kosong. Taufik menjelaskan, aksi panic buying masyarakat menjadi pemicu utama, ditambah hambatan distribusi BBM dari depot ke SPBU.

Pertamina menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami konsumen. Sebagai langkah darurat, perusahaan mempercepat distribusi dengan menambah pasokan di sejumlah SPBU dan meningkatkan jumlah armada pengangkut BBM.

Langkah Percepatan: Jam Operasional Diperpanjang

Untuk mengurai kepadatan, Pertamina memperpanjang jam operasional SPBU di titik-titik rawan antrean. Proses pengiriman dari terminal BBM ke SPBU juga dipercepat agar stok cepat terisi kembali.

"Kemudian penambahan jam operasi SPBU, juga pengiriman dari depot ke SPBU. Mudah-mudahan itu bisa mengurai dalam waktu lebih cepat," kata Taufik.

Pertamina memastikan pasokan secara nasional masih terkendali meski ada tekanan distribusi di beberapa wilayah. Untuk jenis BBM lain, ketahanan stok tercatat bervariasi antara 14 hingga 40 hari, tergantung jenis produknya.

Masyarakat diminta tidak panik dan membeli BBM sesuai kebutuhan. Langkah ini penting agar pasokan tetap merata hingga situasi distribusi kembali normal.

Reporter: Sabar Simanjuntak
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top