SULAWESI SELATAN — Wakil Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, mengakui stok Pertalite dan Biosolar berada di posisi kritis. Dalam keterangannya di Gedung DPR, Kamis (16/7/2026), ia menyebut ketahanan stok kedua produk itu rata-rata hanya 15 hari.
"Kalau stok untuk BBM nasional itu rata-rata di 14 sampai 40 hari, berbeda-beda. Sekarang Pertalite dan Biosolar rata-rata di 15 harian," ujar Taufik.
Fenomena antrean panjang kendaraan di berbagai SPBU daerah bukan semata-mata karena stok kosong. Taufik menjelaskan, aksi panic buying masyarakat menjadi pemicu utama, ditambah hambatan distribusi BBM dari depot ke SPBU.
Pertamina menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami konsumen. Sebagai langkah darurat, perusahaan mempercepat distribusi dengan menambah pasokan di sejumlah SPBU dan meningkatkan jumlah armada pengangkut BBM.
Untuk mengurai kepadatan, Pertamina memperpanjang jam operasional SPBU di titik-titik rawan antrean. Proses pengiriman dari terminal BBM ke SPBU juga dipercepat agar stok cepat terisi kembali.
"Kemudian penambahan jam operasi SPBU, juga pengiriman dari depot ke SPBU. Mudah-mudahan itu bisa mengurai dalam waktu lebih cepat," kata Taufik.
Pertamina memastikan pasokan secara nasional masih terkendali meski ada tekanan distribusi di beberapa wilayah. Untuk jenis BBM lain, ketahanan stok tercatat bervariasi antara 14 hingga 40 hari, tergantung jenis produknya.
Masyarakat diminta tidak panik dan membeli BBM sesuai kebutuhan. Langkah ini penting agar pasokan tetap merata hingga situasi distribusi kembali normal.