Krisis Memori Akibat AI Bikin Harga Ponsel Melonjak, Pasar Global Diprediksi Anjlok 15 Persen Tahun Ini

Penulis: Tedy Rustandi  •  Kamis, 18 Juni 2026 | 02:06:31 WIB
Harga ponsel global melonjak tajam akibat krisis memori yang dipicu oleh permintaan AI.

Laporan terbaru dari firma riset CCS Insight mengonfirmasi skenario terburuk yang sempat diwanti-wanti sejak awal tahun. Alih-alih kenaikan 6-8 persen seperti prediksi Januari lalu, harga beberapa ponsel murah sudah naik lebih dari setengahnya dibanding tahun lalu. Dampaknya langsung terasa: pengiriman ponsel global kuartal pertama tahun ini tercatat turun 4,4 persen, meskipun para distributor sudah menimbun stok lebih awal.

Perebutan Chip Memori: Server AI Lebih Untung dari Ponsel

Akar masalahnya bukan pada gagal produksi, melainkan pergeseran prioritas pabrik chip. Produsen memori kini lebih memilih memproduksi komponen bermargin tinggi untuk server GPU yang dipakai melatih kecerdasan buatan, ketimbang memori DRAM dan NAND standar untuk PC dan ponsel. Kondisi ini menciptakan apa yang disebut sebagai "siklus super" memori yang diprediksi bertahan hingga 2028.

"Komponen memori kini mencakup lebih dari 30 persen dari total biaya bahan baku sebuah ponsel," ujar Ben Hatton, analis riset di CCS Insight. Ia menambahkan bahwa dampak penuh dari krisis ini belum sepenuhnya terasa di banyak kawasan, dan harga dipastikan akan terus merangkak naik hingga akhir tahun.

Ponsel Bekas Jadi Primadona, Tapi Pasokan Terancam Seret

Di tengah mahalnya harga ponsel anyar, pasar barang bekas justru mencatat pertumbuhan. Data CCS Insight menunjukkan pasar sekunder tumbuh 4 persen pada kuartal pertama, dan diproyeksikan membengkak 15 persen sepanjang tahun ini. Konsumen mulai melirik perangkat rekondisi sebagai alternatif yang lebih ramah di kantong.

Namun, ada ironi di balik tren ini. Dengan semakin sedikit orang yang membeli ponsel baru, pasokan ponsel bekas pun ikut menipis. Pasalnya, perangkat bekas berasal dari konsumen yang melakukan upgrade. Sayangnya, siklus penggantian ponsel kini semakin panjang—rata-rata pengguna menahan perangkatnya lebih dari empat tahun, jauh dari kebiasaan lama yang hanya dua tahun.

"Pasar sekunder punya peluang untuk mengisi permintaan yang tidak terpenuhi oleh pasar primer," kata Hatton. "Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menambah pasokan di tengah sepi peluncuran ponsel flagship."

Nasib Pasar Indonesia di Tengah Krisis

Bagi Indonesia, kabar ini menjadi sinyal waspada. Negara dengan program trade-in yang matang akan lebih diuntungkan karena bisa menjamin pasokan perangkat bekas. Sebaliknya, laporan The Register tahun lalu mencatat bahwa kurang dari sepertiga konsumen di Eropa mau menukar atau menjual ponsel lamanya—sebuah kondisi yang tak jauh berbeda dengan kebiasaan konsumen di banyak negara berkembang.

Dengan jumlah vendor ponsel yang juga semakin sedikit dan peluncuran produk baru yang makin jarang, konsumen Indonesia mungkin harus bersiap bertahan dengan ponsel lamanya lebih lama lagi. Atau, jika terpaksa membeli baru, siapkan anggaran ekstra yang jauh lebih besar dari biasanya.

Reporter: Tedy Rustandi
Sumber: theregister.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top