Komisi XI DPR: Pembahasan APBN 2027 Harus Prioritaskan Penguatan Kelas Menengah

Penulis: Pandu Wibisono  •  Jumat, 12 Juni 2026 | 14:51:01 WIB
Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menekankan pentingnya penguatan kelas menengah dalam penyusunan APBN 2027.

SULAWESI SELATAN — Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menegaskan bahwa pembahasan KEM-PPKF untuk penyusunan APBN 2027 tidak boleh hanya berorientasi pada angka pertumbuhan. Menurut dia, kebijakan fiskal harus secara spesifik menjaga kekuatan kelompok kelas menengah yang menjadi motor utama konsumsi dan aktivitas ekonomi nasional.

Tekanan Ekonomi yang Mulai Terasa di Kelas Menengah

Misbakhun mengungkapkan bahwa tantangan ekonomi saat ini tidak lagi eksklusif dirasakan masyarakat berpenghasilan rendah. Banyak keluarga kelas menengah, kata dia, menghadapi situasi sulit akibat pengeluaran yang terus bertambah.

"Banyak keluarga kelas menengah hari ini menghadapi situasi yang tidak mudah. Pengeluaran bertambah, cicilan tetap berjalan, biaya pendidikan naik, sementara mereka juga harus memikirkan tabungan dan masa depan keluarganya," ujar Misbakhun di Jakarta, Jumat.

Kondisi ini, menurutnya, membutuhkan respons kebijakan yang lebih terarah agar daya beli kelompok tersebut tidak terus tergerus.

Target Rasio Penerimaan Negara dan Risiko Beban Baru

Dalam pembahasan KEM-PPKF 2027, pemerintah dan DPR telah menyepakati target rasio pendapatan negara pada kisaran 12,01 hingga 12,40 persen terhadap PDB. Misbakhun menilai target tersebut harus dicapai melalui perluasan basis penerimaan dan reformasi fiskal yang berkualitas, bukan dengan menambah tekanan pada kelompok yang selama ini patuh membayar pajak.

"Jangan sampai kelas menengah yang selama ini menjadi penggerak utama ekonomi domestik justru semakin terbebani. Reformasi fiskal harus dilakukan dengan prinsip keadilan dan mendorong pertumbuhan," kata dia.

Dampak Jika Kelas Menengah Menahan Konsumsi

Politisi itu memperingatkan bahwa kelas menengah memegang peran krusial dalam menjaga pergerakan ekonomi nasional. Ketika kelompok ini memiliki keyakinan untuk berbelanja, membeli rumah, membuka usaha, atau berinvestasi, aktivitas ekonomi akan tumbuh lebih kuat.

Sebaliknya, jika mereka mulai menahan konsumsi dan menunda berbagai keputusan ekonomi, dampaknya akan cepat dirasakan oleh dunia usaha dan lapangan kerja. "Menjaga kelas menengah bukan semata-mata soal membantu satu kelompok masyarakat. Ini juga soal menjaga mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap bergerak," ucap Misbakhun.

Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi 2027 tidak boleh hanya berhenti pada angka. Pertumbuhan harus mampu menciptakan lapangan kerja yang lebih baik, memperkuat dunia usaha, dan menjaga daya beli masyarakat secara berkelanjutan.

Reporter: Pandu Wibisono
Sumber: voi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top