Peneliti UMI Makassar Ciptakan Varietas Tanaman Tahan Iklim Ekstrem, BRIN Sebut Terobosan untuk Swasembada Pangan

Penulis: Sabar Simanjuntak  •  Senin, 08 Juni 2026 | 21:30:01 WIB
Peneliti UMI Makassar menciptakan varietas tanaman tahan iklim ekstrem untuk mendukung ketahanan pangan.

MAKASSAR — Riset varietas tanaman yang dilakukan akademisi UMI Makassar mendapat sorotan langsung dari Kepala BRIN Arif Satria. Dalam Konferensi Internasional Sustainable Development Goals (SDGs) yang digelar dalam rangka Milad ke-72 UMI, Senin lalu, ia menegaskan temuan ini bukan sekadar capaian akademik, melainkan jawaban atas kebutuhan pangan nasional yang mendesak.

Perubahan Iklim Jadi Pemicu Utama Riset Varietas Baru

Menurut Arif, era perubahan iklim memaksa dunia pertanian beradaptasi. Tanaman yang biasa ditanam petani kini rentan gagal panen akibat cuaca tak menentu dan serangan penyakit.

“Dengan era perubahan iklim ini semakin diperlukan varietas-varietas baru yang bisa resisten terhadap perubahan iklim, hemat air, hemat pupuk, dan termasuk di dalamnya adalah yang resisten terhadap berbagai penyakit,” ujar Arif di hadapan peserta konferensi.

Ia menambahkan, BRIN berkomitmen memfasilitasi pengembangan varietas ini agar tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar sampai ke tangan petani.

UMI Catat 85 Permohonan Paten dan Satu Varietas Tanaman Siap Dilepas

Rektor UMI Prof Dr Hambali Thalib memaparkan capaian riset perguruan tinggi tersebut. Per 4 Juni 2026, UMI telah mengajukan 85 permohonan paten, 45 di antaranya sudah granted, serta 511 hak cipta dan dua merek terdaftar.

Yang paling dinanti adalah satu perlindungan varietas tanaman yang saat ini tengah memasuki tahap pelepasan varietas. Jika lolos, varietas ini bisa segera dikomersialisasikan dan ditanam oleh petani di Sulawesi Selatan dan daerah lain.

BRIN: Aplikasi di Lapangan Lebih Penting dari Sekadar Paten

Meski mengapresiasi riset, Arif Satria mengingatkan bahwa ujung dari inovasi adalah implementasi. Jangan sampai varietas unggul hanya menjadi dokumen di rak perpustakaan.

“Ini sebuah terobosan yang harus kita terus lakukan karena varietas ini harus terus kita perkuat untuk meningkatkan kemandirian pangan kita. Namun, yang paling penting bisa diaplikasi di lapangan,” tegasnya.

Pernyataan ini sekaligus menjadi tantangan bagi para peneliti dan pemangku kepentingan di daerah untuk menjembatani riset dengan kebutuhan riil petani di Sulawesi Selatan.

Reporter: Sabar Simanjuntak
Sumber: makassar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top