SULAWESI SELATAN — Fenomena ini menarik karena terjadi di saat nyaris semua ponsel flagship—dari iPhone 17 hingga Galaxy S26—mengusung desain layar penuh tanpa bingkai. Di tengah homogenitas tersebut, ponsel dengan keyboard fisik hadir sebagai opsi yang memberikan "kepribadian" berbeda. Selain nostalgia, alasan praktis juga mendorong tren ini: keyboard fisik dianggap lebih bebas dari bug keyboard virtual yang kerap dikeluhkan pengguna iPhone belakangan ini.
Beberapa pilihan sudah tersedia di pasaran, sebagian besar dari vendor China. Minimal Phone misalnya, dibanderol $449,99 dan mengusung layar e-paper hitam-putih dengan Android 14 serta dukungan penuh Google Play. Sementara itu, Zinwa Q25 dari Zinwa Technologies adalah hasil konversi BlackBerry Classic menjadi perangkat Android 13 seharga sekitar $400.
Nama yang paling agresif adalah Unihertz. Setelah sukses dengan Titan 2 di Kickstarter pada 2025—mengumpulkan lebih dari $2 juta dari 7.000 pendukung—Unihertz meluncurkan dua penerus di MWC 2026: Titan 2 Elite dan Titan 2 Elite Pro. Keduanya kembali mencetak rekor dengan hampir 9.000 pendukung dan total dana lebih dari $4 juta di Kickstarter. Spesifikasinya cukup modern: layar OLED 4,03 inci dengan refresh rate 120 Hz, 5G, eSIM, dan slot microSD. Model Pro menawarkan prosesor lebih tinggi dan penyimpanan 512 GB, dua kali lipat varian standar. Harga pre-order langsung dari Unihertz adalah $490 untuk Elite dan $580 untuk Elite Pro.
Pesaing langsung Unihertz datang dari Clicks dengan perangkat bernama Clicks Communicator yang diperkenalkan di CES 2026. Ponsel ini membanderol $499 dan menawarkan paket hampir identik: layar OLED 4,03 inci, prosesor MediaTek Dimensity 8300, serta keyboard QWERTY penuh yang juga mendukung input sentuh. Menariknya, Clicks Communicator sudah menjalankan Android 16 dan dijanjikan pembaruan software selama lima tahun. Fitur lain termasuk pengisian nirkabel Qi2, jack audio 3,5 mm, dan lampu LED di tombol Prompt Key yang bisa dikustomisasi.
Bagi pengguna yang tidak ingin mengganti ponsel utamanya, solusi dari Clicks juga tersedia dalam bentuk aksesori keyboard yang bisa dipasang ke iPhone dan sejumlah perangkat Android. Opsi ini memungkinkan pengalaman mengetik fisik tanpa harus membeli ponsel kedua. Bagi sebagian orang, memiliki perangkat sekunder dengan keyboard fisik juga bisa menjadi cara untuk mengurangi screen time, karena konsumsi konten di layar kecil tidak senyaman di layar utama.
Tren ini membuktikan bahwa meskipun BlackBerry sudah lama tidak memproduksi ponsel sendiri, DNA-nya tetap hidup. Bagi pengguna di Indonesia yang merindukan sensasi mengetik di keyboard fisik atau sekadar ingin ponsel yang tidak terlihat seperti milik orang lain, tahun 2026 adalah waktu yang tepat untuk kembali melirik ponsel QWERTY.