MAKASSAR — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah untuk mengoptimalkan potensi ekonomi melalui forum Percepatan Investasi, Perdagangan, dan Pariwisata Sulawesi Selatan (PINISI SULTAN). Program ini fokus pada peningkatan kualitas proyek agar lebih menarik bagi penanam modal dari dalam maupun luar negeri.
Kepala Kantor Perwakilan BI Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, mengungkapkan bahwa pihaknya rutin memberikan pendampingan agar setiap daerah mampu menghasilkan proyek investasi yang berkualitas. Upaya ini dilakukan secara berkelanjutan setiap tahun untuk memastikan potensi unggulan di Sulsel benar-benar siap dipasarkan secara global.
Meskipun realisasi investasi di Sulawesi Selatan sepanjang 2025 menunjukkan tren positif pada sektor Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), posisi Sulsel masih tertahan di urutan ke-20 nasional. Peringkat ini menjadi indikator penting bagi BI untuk mendorong akselerasi perbaikan iklim usaha di wilayah tersebut.
"Kegiatan itu dirangkaikan dengan forum Percepatan Investasi, Perdagangan, dan Pariwisata Sulawesi Selatan (PINISI SULTAN) yang menjadi salah satu upaya BI Sulsel mendorong investasi di daerah," kata Rizki Ernadi Wimanda di Makassar, Kamis.
Rizki menekankan pentingnya penguatan infrastruktur pendukung dan penyediaan proyek yang matang. Sinergi antar pemangku kepentingan diharapkan mampu menciptakan hilirisasi ekonomi daerah yang berkelanjutan, sehingga daya saing Sulsel meningkat di level nasional.
Saat ini, Sulawesi Selatan telah mengantongi lebih dari 90 Investment Project Ready to Offer (IPRO). Sebagian dari daftar proyek tersebut telah dinyatakan berstatus clean and clear, yang berarti siap untuk segera ditindaklanjuti oleh para calon investor tanpa kendala administratif lahan maupun regulasi dasar.
Namun, BI mencatat masih ada sejumlah kendala di lapangan, seperti kesiapan detail proyek yang belum optimal serta keterbatasan akses pembiayaan alternatif. Selain itu, sinkronisasi antara proyek daerah dengan prioritas pembangunan nasional tetap menjadi poin yang harus disesuaikan kembali.
Guna mengatasi hambatan kualitas dokumen, BI Sulsel memfasilitasi penyusunan studi kelayakan atau feasibility study (FS) dengan menggandeng lembaga profesional yang kredibel. Langkah ini bertujuan agar dokumen proyek yang ditawarkan memiliki standar internasional dan akurasi data yang tinggi.
Strategi promosi ke depan tidak hanya mengandalkan forum formal, tetapi juga akan diperluas melalui pertemuan one-on-one dan peninjauan langsung ke lokasi proyek atau site visit. Rangkaian aksi ini diharapkan dapat mempercepat masuknya aliran modal baru yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi masyarakat di Sulawesi Selatan.