SULAWESI SELATAN — Kabar yang menyebut anak-anak Ruben Onsu takut dan enggan bertemu sang ayah akhirnya mendapat tanggapan dari kuasa hukumnya, Minola Sebayang. Ia mempertanyakan kebenaran isu tersebut dan meminta agar klaim soal kondisi psikologis anak dibuktikan lewat keterangan ahli, bukan sekadar pemberitaan.
Minola Sebayang, kuasa hukum Ruben Onsu, angkat bicara soal klaim tersebut. Ia menyoroti pentingnya pembuktian yang jelas, terutama jika klaim itu menyangkut kondisi psikologis anak.
Minola mengungkapkan bahwa Ruben mengetahui kabar anak-anaknya takut bertemu dirinya melalui pemberitaan di media. Menurutnya, informasi semacam itu semestinya tidak langsung dipercaya tanpa bukti yang jelas.
Ia pun mempertanyakan kebenaran isu tersebut. Minola menilai klaim soal perasaan anak terhadap orang tuanya tidak bisa dibangun hanya dari pernyataan sepihak.
Minola menggambarkan bagaimana beratnya posisi Ruben sebagai ayah ketika mendengar kabar tersebut. Ia menilai tuduhan bahwa anak takut kepada orang tuanya adalah hal yang sangat sensitif.
"Ya bagaimanalah reaksi seorang ayah ketika mantan istrinya bilang bahwa anak-anak takut enggan bertemu dengan kamu? Ya, karena seperti yang saya katakan, kalau sampai ada hal yang seperti itu, ini kan berarti kesalahannya kan di orang dewasa di lingkungan anak-anak itu," ujar Minola Sebayang di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.
Pernyataan itu menegaskan bahwa menurut Minola, persoalan ini bukan soal anak, melainkan soal orang dewasa di sekitarnya.
Minola menyoroti peran orang dewasa di sekitar anak dalam membentuk cara pandang mereka terhadap kedua orang tuanya. Menurutnya, lingkungan terdekat memegang peranan krusial dalam hal ini.
Ia menegaskan bahwa anak semestinya selalu diajarkan untuk menghormati dan merasa bangga terhadap ayah maupun ibunya. Sikap hormat itu, kata dia, adalah fondasi penting dalam tumbuh kembang anak.
"Karena kalau misalnya anak itu sempat tidak merasa bangga kepada ayah dan ibunya, ini anak-anak kan bisa menjadi orang yang tidak respect, tidak hormat kepada orang tuanya. Ini bisa cenderung menjadi anak yang tidak berbakti, tanda petik kan begitu. Jadi makanya harus selalu diajarkan untuk selalu menghormati orang tua," tegas Minola.
Minola mempertanyakan kebenaran isu yang menyebut anak-anak Ruben takut bertemu sang ayah. Ia menyinggung kondisi psikologis Ruben sebagai seorang ayah yang harus menghadapi tuduhan tersebut.
Menurutnya, klaim yang menyangkut perasaan dan kondisi psikologis anak sebaiknya dibuktikan lewat keterangan ahli, bukan hanya berdasarkan pemberitaan atau pernyataan satu pihak. Pembuktian semacam itu dinilai penting agar persoalan tidak melebar dan tetap fokus pada kepentingan anak.
Kasus seperti ini menjadi pengingat bahwa konflik antara orang dewasa sebaiknya tidak melibatkan anak. Anak berhak mendapatkan rasa aman dan tidak ditempatkan dalam posisi memilih antara ayah atau ibunya.
Ketika orang tua berpisah, komunikasi yang sehat dan kerja sama dalam pengasuhan tetap menjadi kunci. Anak yang tumbuh dengan rasa hormat terhadap kedua orang tuanya cenderung lebih stabil secara emosional.
Jika muncul tanda anak menarik diri, takut, atau enggan bertemu salah satu orang tua, konsultasi dengan psikolog anak bisa membantu. Ahli dapat menilai apakah ada masalah yang perlu ditangani, sekaligus memberi panduan pengasuhan yang tepat.
Pada akhirnya, kepentingan terbaik anak harus menjadi pertimbangan utama. Menjaga hubungan anak dengan kedua orang tuanya, sepanjang aman, adalah cara terbaik melindungi tumbuh kembangnya.