Sarwendah Bantah Larang Anak Bertemu Ruben Onsu: Saya Hanya Minta Koordinasi

Penulis: Ramli Siregar  •  Kamis, 17 September 2026 | 09:37:01 WIB

SULAWESI SELATAN — Sarwendah akhirnya buka suara setelah dituding melarang anak-anaknya bertemu Ruben Onsu dan mendoktrin buah hatinya. Dalam video klarifikasi yang diunggah ke Instagram, ia menegaskan tuduhan itu tidak benar dan menjelaskan alasannya meminta koordinasi soal waktu serta lokasi pertemuan.

Sarwendah membantah keras tuduhan yang menyebut dirinya menghalangi pertemuan anak-anak dengan sang ayah, Ruben Onsu. Ia menegaskan selama ini tidak pernah melarang, melainkan hanya meminta kejelasan soal waktu dan tempat saat anak-anak bertemu ayahnya.

Klarifikasi itu ia sampaikan lewat video yang diunggah ke Instagram, dikutip Rabu (16/9/2026). Video tersebut menjadi jawaban atas narasi yang beredar usai kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, melontarkan tudingan ke publik.

Alasan Sarwendah Akhirnya Buka Suara

Selama ini Sarwendah memilih bungkam. Menurutnya, diam adalah cara terbaik menjaga situasi tetap kondusif di tengah proses perceraian.

Namun pilihan itu justru disalahartikan. Ia merasa sikap diamnya dimanfaatkan pihak kuasa hukum mantan suaminya untuk membangun narasi yang tidak sesuai fakta.

"Saya bikin video ini karena saya pikir diam adalah pilihan yang terbaik. Tapi, diam saya malah dipakai untuk membuat narasi-narasi yang tidak benar," ujar Sarwendah dalam video klarifikasi terbarunya dikutip dari Instagram, Rabu (16/9/2026).

Tudingan Doktrin Anak yang Dibantah

Sarwendah juga meradang lantaran dituduh mendoktrin buah hatinya agar menjauh dari Ruben Onsu. Tuduhan itu dinilainya tidak berdasar dan menyentuh ranah pengasuhan yang selama ini ia jaga.

Mantan personel Cherrybelle tersebut menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menanamkan kebencian kepada anak-anak terhadap ayah mereka. Fokusnya justru memastikan pertemuan berjalan aman dan teratur.

Yang Sebenarnya Diminta Sarwendah

Menurut Sarwendah, ia hanya meminta adanya koordinasi yang jelas mengenai waktu dan lokasi pertemuan. Permintaan itu ia nilai wajar demi kenyamanan anak-anak.

Ia membantah keras telah menghalangi pertemuan anak-anak dengan ayahnya. Poin ini yang ia ingin publik pahami, agar tudingan soal larangan bertemu tidak terus berkembang.

Pelajaran soal Koordinasi Pengasuhan Setelah Perceraian

Kasus ini menyoroti satu hal yang sering dialami orang tua setelah berpisah: kesepakatan soal jadwal dan tempat bertemu anak. Tanpa aturan yang jelas, komunikasi mudah berubah jadi konflik.

Bagi ibu yang berada di situasi serupa, menyepakati jadwal tertulis, lokasi netral, dan jalur komunikasi resmi bisa mengurangi salah paham. Libatkan pihak ketiga tepercaya bila komunikasi langsung terasa sulit.

Yang paling penting, kepentingan anak tetap jadi acuan. Anak butuh rasa aman dan kepastian, bukan pertengkaran orang tua yang berlanjut di ruang publik.

Kapan Perlu Bantuan Pihak Ketiga

Jika komunikasi soal jadwal bertemu anak terus menemui jalan buntu, ibu bisa meminta mediasi lewat pengacara atau lembaga yang menangani hak anak. Langkah ini membantu menyusun kesepakatan yang adil bagi kedua orang tua.

Konsultasi dengan psikolog anak juga bermanfaat bila si kecil mulai menunjukkan perubahan perilaku, seperti mudah cemas atau menarik diri, akibat situasi orang tua yang memanas.

Sarwendah memilih angkat bicara setelah merasa diamnya disalahgunakan. Baginya, klarifikasi ini bukan soal menyerang balik, melainkan meluruskan fakta soal pengasuhan anak-anaknya.

Reporter: Ramli Siregar
Sumber: lifestyle.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top