SULAWESI SELATAN — FAW Hongqi, merek mobil penumpang tertua di Tiongkok, mengumumkan keberhasilan pengembangan prototipe sunroof fotovoltaik pada 27 Agustus 2026. Teknologi ini disematkan pada SUV listrik Hongqi EHS7, yang di pasar domestik dikenal sebagai Tiangong 08. Ini bukan sekadar konsep—prototipe tersebut sudah terpasang dan diuji pada kendaraan sungguhan.
Yang membuat teknologi ini menarik bukan cuma soal panel surya di atap mobil—ide itu sudah ada sejak abad ke-20 dan pernah dipakai di beberapa mobil produksi massal dengan efektivitas yang diperdebatkan. Yang berbeda di sini adalah materialnya: Hongqi tidak memakai silikon kristal konvensional yang rapuh dan efisiensinya rendah. Sebagai gantinya, mereka menggunakan perovskit, mineral kalsium titanium oksida yang ringan, tipis, dan fleksibel.
Perwakilan FAW Hongqi menyebut skylight fotovoltaik perovskit ini sanggup menghasilkan output pembangkitan daya real-time sebesar 300 W dalam kondisi cahaya matahari cukup. Dalam setahun, sistem ini diproyeksikan menghasilkan sekitar 400 kWh energi bersih.
Angka itu perlu dibaca dengan hati-hati. 400 kWh per tahun bukanlah angka yang besar untuk menggerakkan mobil listrik. Untuk konteks, baterai Hongqi EHS7 sendiri punya kapasitas jauh di atas itu—kebutuhan harian mobil listrik untuk jarak 50 km saja biasanya butuh 8-10 kWh.
Klaim Hongqi soal tambahan jangkauan hingga 80 km per hari adalah visi jangka panjang, bukan kemampuan prototipe saat ini. Untuk sekarang, energi yang dihasilkan difokuskan untuk kebutuhan peralatan tegangan rendah: pendingin ruangan saat mobil parkir, lemari es, dan sistem pemantauan. Artinya, teknologi ini lebih relevan untuk menjaga kabin tetap sejuk saat ditinggal di bawah terik matahari daripada menambah jarak tempuh secara signifikan.
Pilihan material perovskit bukan tanpa alasan. Tim R&D Hongqi menyebut material ini punya efisiensi konversi fotovoltaik tinggi, bisa dibuat dalam berbagai warna, dan biaya produksinya rendah. Sifatnya yang fleksibel juga memungkinkan integrasi ke permukaan kaca melengkung—sesuatu yang sulit dilakukan dengan panel silikon kaku.
Namun, perovskit punya kelemahan struktural yang serius: material ini rentan terhadap air, oksigen, dan radiasi ultraviolet. Ini masalah besar untuk aplikasi otomotif di Indonesia yang panas, lembap, dan sering hujan. Hongqi mengakui tim R&D mereka menghadapi tantangan signifikan saat mengintegrasikan material ini ke sunroof, terutama soal ketahanan jangka panjang terhadap elemen-elemen tersebut.
Teknologi ini masih berstatus prototipe. Belum ada jadwal pasti kapan sunroof fotovoltaik perovskit ini akan tersedia di mobil produksi massal, apalagi masuk ke pasar Indonesia. Yang dijual saat ini adalah Hongqi EHS7 dengan sunroof panoramik konvensional—bukan versi bertenaga surya.
Beberapa catatan penting sebelum Anda tergoda:
Ide sunroof bertenaga surya yang benar-benar fungsional adalah langkah maju yang menarik, dan perovskit bisa jadi material yang tepat jika masalah ketahanannya teratasi. Untuk saat ini, teknologi tersebut lebih cocok dilihat sebagai riset yang menjanjikan daripada fitur yang siap dibeli konsumen.
Kalau Anda sedang mempertimbangkan Hongqi EHS7 karena penasaran dengan teknologi suryanya, sebaiknya tunggu sampai versi produksi massal benar-benar dirilis dan diuji dalam kondisi nyata. Untuk kebutuhan harian, sunroof konvensional yang ada saat ini sudah cukup—dan tanpa risiko panel surya yang bisa rusak kena hujan.