Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mencatat lonjakan signifikan jumlah titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera mencapai 1.104 titik pada Sabtu pagi. Konsentrasi terbanyak terpantau di Provinsi Sumatera Selatan dengan 528 titik, disusul Bangka Belitung dan Lampung yang juga menunjukkan angka tinggi.
PEKANBARU — BMKG Stasiun Pekanbaru mendeteksi lonjakan drastis titik panas di Pulau Sumatera berdasarkan pembaruan data Satelit Modis pada pukul 07.00 WIB, Sabtu. Sebanyak 1.104 titik panas tersebar di sembilan provinsi, dengan Sumatera Selatan mendominasi hampir separuh dari total keseluruhan.
Prakirawan BMKG Pekanbaru, Anggun R, mengungkapkan bahwa Sumatera Selatan menjadi penyumbang terbesar dengan 528 titik panas. Angka ini jauh melampaui provinsi lain yang juga masuk dalam kategori rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Selain Sumatera Selatan, beberapa provinsi lain juga mencatatkan jumlah titik panas yang cukup tinggi dan perlu diwaspadai. Berikut rincian sebarannya:
Sementara itu, provinsi lainnya seperti Kepulauan Riau mencatat 34 titik, Bengkulu 19 titik, Aceh 13 titik, Sumatera Utara 9 titik, dan Sumatera Barat 5 titik. Data ini menunjukkan hampir seluruh wilayah Sumatera berpotensi mengalami karhutla jika tidak segera ditangani.
Di Provinsi Riau sendiri, titik panas terdeteksi menyebar di delapan kabupaten/kota. Kabupaten Pelalawan menjadi area paling krusial dengan temuan 71 titik panas, angka yang sangat tinggi untuk ukuran satu kabupaten.
Konsentrasi titik panas di Pelalawan ini patut menjadi perhatian serius karena berdekatan dengan kawasan hutan gambut yang mudah terbakar. Dua kabupaten lainnya, Indragiri Hilir dan Kampar, masing-masing mencatat delapan dan empat titik panas pada periode yang sama.
BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama di wilayah-wilayah yang menunjukkan lonjakan titik panas signifikan seperti Sumatera Selatan dan Riau. Kondisi cuaca kering dan angin kencang dikhawatirkan dapat mempercepat penyebaran api jika tidak segera diantisipasi.