Kadis LH Wajo Beri Piso Dapur ke Konsultan Lingkungan, Simbol Gerakan Pilah Sampah dari Rumah

Penulis: Ramli Siregar  •  Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:44:01 WIB
Kadis LH Wajo menyerahkan piso dapur kepada konsultan lingkungan sebagai simbol Gerakan PISOTA' dalam pembahasan dokumen UKL-UPL perumahan.

WAJO — Sebuah piso dapur menjadi hadiah tak biasa dalam pembahasan dokumen lingkungan di Kabupaten Wajo. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Wajo, Andi Fakhrul Rijal B, menyerahkan langsung alat dapur tersebut kepada konsultan lingkungan yang tengah menyusun dokumen UKL-UPL perumahan developer.

Hadiah ini bukan sekadar cendera mata. Piso dapur dipilih sebagai simbol Gerakan PISOTA' — singkatan dari Pilah Sampahta, Olah Sampahta, Tanami Pekaranganta.

Alasannya sederhana: piso digunakan setiap hari di dapur, tepat di lokasi sampah makanan dan sampah rumah tangga dihasilkan.

Gerakan PISOTA' Masuk Dokumen UKL-UPL Perumahan

Langkah konsultan lingkungan itu dinilai sebagai dukungan nyata terhadap pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Dengan masuknya program PISOTA' ke dalam dokumen UKL-UPL, kewajiban pengelolaan sampah tidak lagi sekadar formalitas, melainkan terencana sejak tahap perizinan.

Andi Fakhrul Rijal B mengapresiasi inisiatif tersebut. Menurutnya, pengelolaan sampah harus menjadi bagian dari perencanaan pembangunan, bukan dipikirkan belakangan.

"PISOTA' harus masuk dalam perencanaan pembangunan. Kita ingin pengelolaan sampah dimulai dari sumbernya, termasuk dari lingkungan perumahan," ujarnya.

Dorong Developer Siapkan Sistem Pengelolaan Sampah

DLH Wajo berharap langkah konsultan ini diikuti oleh konsultan lingkungan dan developer lainnya. Setiap pembangunan perumahan ke depan diharapkan tidak hanya memperhatikan aspek bangunan, tetapi juga menyiapkan sistem pengelolaan sampah yang baik.

Konsep PISOTA' sendiri menekankan tiga aksi utama: memilah sampah, mengolah sampah, dan menanami pekarangan. Pendekatan ini mengajak masyarakat memulai perubahan dari unit terkecil, yakni rumah tangga.

Bagi DLH Wajo, dapur menjadi titik awal yang strategis. Dari sana, kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik bisa tumbuh, lalu berlanjut pada pengolahan sampah menjadi sesuatu yang berguna, hingga memanfaatkan pekarangan untuk ditanami.

Pemberian piso dapur ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah tidak harus dimulai dengan teknologi mahal atau infrastruktur besar, melainkan dari kebiasaan harian di rumah.

Reporter: Ramli Siregar
Sumber: celoteh.online This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top