SULAWESI SELATAN — Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data perdagangan terbaru yang menunjukkan kontraksi signifikan pada kinerja ekspor hasil pertanian. Sepanjang Januari–Juni 2026, total nilai pengapalan komoditas perkebunan, hortikultura, dan hasil hutan hanya mencapai US$2,58 miliar, turun drastis dari posisi US$3,34 miliar pada semester I 2025.
Koreksi tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 22,54% ini terjadi di tengah tekanan harga komoditas global dan perlambatan permintaan dari negara tujuan utama ekspor.
Di tengah pelemahan secara keseluruhan, kopi masih mempertahankan posisinya sebagai penyumbang devisa terbesar. Nilai ekspor kopi mencapai US$786,2 juta pada paruh pertama tahun ini. Angka tersebut setara dengan lebih dari sepertiga total ekspor hasil pertanian nasional, menunjukkan ketergantungan yang masih tinggi pada satu komoditas unggulan.
Berikut rincian nilai ekspor hasil pertanian Indonesia berdasarkan komoditas utama pada semester I 2026:
Data BPS menunjukkan bahwa komoditas selain kopi dan rempah-rempah memiliki kontribusi yang relatif kecil. Hal ini mengindikasikan bahwa portofolio ekspor pertanian Indonesia masih belum terdiversifikasi secara optimal.
Pelemahan nilai ekspor ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika pasar internasional. Harga kopi arabika dan robusta di bursa ICE New York dan London mengalami koreksi pada kuartal kedua 2026 setelah sempat berada di level tertinggi sepanjang sejarah pada tahun sebelumnya. Normalisasi harga ini otomatis menekan nilai ekspor meskipun volume pengapalan relatif stabil.
Selain faktor harga, perlambatan ekonomi di sejumlah negara tujuan utama seperti Amerika Serikat dan Eropa turut menekan permintaan. Para importir cenderung menahan pembelian stok di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar.
Bagi eksportir dan petani, penurunan nilai ekspor ini berarti tekanan pada pendapatan. Meski volume penjualan mungkin tidak berubah signifikan, pendapatan dalam mata uang rupiah berpotensi tergerus seiring pelemahan harga komoditas di pasar global.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa menjadi bantalan bagi eksportir. Penerimaan dalam dolar yang dikonversi ke rupiah akan menghasilkan nominal yang lebih besar, membantu menjaga margin keuntungan di tengah turunnya harga komoditas.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk terus mendorong hilirisasi produk pertanian. Pengolahan kopi menjadi produk turunan seperti kopi instan atau ekstrak kopi dapat meningkatkan nilai tambah dan mengurangi sensitivitas terhadap fluktuasi harga komoditas mentah di pasar internasional.