SULAWESI SELATAN — Keterbatasan lahan kerap menjadi momok bagi petani di Pulau Jawa. Namun, Abdul Mukarrom dari Desa Balenrejo, Kecamatan Balen, Bojonegoro, justru melihatnya sebagai peluang. Di atas lahan yang tak lebih dari ukuran pekarangan rumah, ia membangun sistem pertanian terpadu yang menggabungkan budidaya ikan, tanaman sayur, dan peternakan dalam satu ekosistem yang saling menguntungkan.
Konsep yang dikembangkan Mukarrom tidak rumit. Ia memanfaatkan kolam ikan sebagai sumber irigasi alami bagi tanaman di sekitarnya. Air kolam yang kaya nutrisi dari kotoran ikan dialirkan ke bedengan-bedengan sayuran seperti kangkung, bayam, dan cabai.
Limbah dari sayuran yang tidak terpakai, seperti daun tua, dijadikan pakan tambahan untuk ikan lele dan nila. Sementara itu, kotoran ternak kambing yang ia pelihara di samping rumah diolah menjadi pupuk organik. Semua elemen saling terhubung, menciptakan siklus yang hampir tanpa limbah.
"Dulu saya hanya menanam padi, hasilnya pas-pasan. Sekarang satu lahan bisa menghasilkan ikan, sayur, dan pupuk sekaligus. Pendapatan justru meningkat," ujar Mukarrom saat ditemui di lahannya, pekan lalu.
Pendekatan ini terbukti mengubah ekonomi rumah tangganya. Sebelumnya, Mukarrom mengandalkan satu kali panen padi per musim dengan keuntungan tipis. Kini, ia bisa memanen sayuran setiap 20-30 hari dan ikan setiap tiga bulan sekali. Dalam sebulan, ia mengaku bisa mengantongi tambahan pendapatan hingga Rp 2 juta dari penjualan sayur dan ikan—jumlah yang signifikan untuk ukuran petani lahan sempit.
Yang menarik, metode ini tidak membutuhkan lahan luas. Mukarrom hanya menggunakan area sekitar 200 meter persegi di belakang rumahnya. Ini membuktikan bahwa intensifikasi lahan bisa menjadi solusi bagi petani yang tidak memiliki akses tanah luas.
Keberhasilan Mukarrom menarik perhatian Dinas Pertanian Bojonegoro. Beberapa penyuluh pertanian kini mulai memperkenalkan konsep serupa ke kelompok tani lain di wilayah tersebut sebagai langkah adaptasi terhadap menyempitnya lahan produktif.
Bojonegoro dikenal sebagai lumbung padi, namun alih fungsi lahan untuk industri migas dan infrastruktur terus terjadi. Data menunjukkan luas lahan sawah di kabupaten ini cenderung stagnan, sementara jumlah petani tidak berkurang.
Model pertanian terpadu ala Mukarrom menawarkan jawaban atas dilema tersebut. Dengan memaksimalkan produktivitas per meter persegi, ketergantungan pada perluasan lahan bisa dikurangi. Petani tidak lagi harus membuka lahan baru yang merusak lingkungan, melainkan meningkatkan nilai dari lahan yang sudah ada.
Konsep ini juga selaras dengan program pemerintah dalam mendorong pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan berbasis kearifan lokal. Jika direplikasi secara masif, bukan tidak mungkin Bojonegoro bisa menjaga produksi pangannya tanpa harus mengorbankan area hijau yang tersisa.
Kisah Abdul Mukarrom adalah bukti sederhana bahwa inovasi tidak selalu harus datang dari teknologi mahal. Terkadang, solusi paling efektif justru lahir dari keberanian melihat keterbatasan sebagai titik awal kreativitas.