SULAWESI SELATAN — Musim lalu, Everton sempat menjadi cerita manis Premier League. Pada 21 Maret 2026, mereka hanya berjarak tiga poin dari zona Liga Champions setelah tampil impresif di Hill Dickinson Stadium. Puncaknya adalah kemenangan telak atas Chelsea yang disebut sebagai performa terbaik mereka di kandang baru. Namun, setelah momen itu, segalanya berubah drastis.
Tim asuhan David Moyes gagal memenangi satu pun pertandingan hingga akhir musim. Mereka jatuh ke peringkat 13, posisi yang sama dengan musim sebelumnya di bawah Sean Dyche. Akhir musim yang buruk itu membuat peluang tampil di kompetisi Eropa sirna dan memicu pertanyaan besar tentang konsistensi tim.
Alih-alih belanja besar, Everton memilih pendekatan cerdas di bursa transfer. Langkah paling mencolok adalah mendatangkan Brennan Johnson dari Crystal Palace dengan harga yang jauh di bawah nilai investasi awal Palace yang mencapai £35 juta. Pemain sayap asal Wales itu gagal bersinar di Palace, tetapi Everton berharap ia bisa kembali ke performa terbaiknya seperti saat mencetak 18 gol untuk Tottenham pada 2024-25.
Di lini tengah, kepergian Idrissa Gana Gueye disiasati dengan memboyong Christian Nørgaard dari Brentford senilai £7 juta. Moyes juga masih mencari suksesor jangka panjang untuk kapten veteran Séamus Coleman di posisi bek kanan. Sementara itu, opsi lini depan yang diisi Beto dan Thierno Barry masih dianggap sebagai titik lemah yang harus segera diperbaiki sebelum jendela transfer ditutup.
Moyes, yang akan berusia 64 tahun pada April mendatang, tetap menunjukkan ambisi untuk membangun Everton yang lebih kuat. Namun, ada spekulasi bahwa ia bisa menjadi kandidat kuat untuk menangani timnas Skotlandia jika posisi Steve Clarke kosong. Pembicaraan mengenai perpanjangan kontraknya di Everton dikabarkan meredup setelah rentetan hasil buruk di penghujung musim lalu.
Tekanan terhadap Moyes meningkat. Kritik terhadap pemilihan pemainnya kian tajam, dan ia dinilai perlu membuktikan bahwa dirinya masih punya stamina untuk bersaing di level tertinggi. Jika awal musim ini berjalan buruk, masa depannya di Goodison Park—kini Hill Dickinson Stadium—bisa kembali menjadi sorotan.
Di luar lapangan, kepemilikan The Friedkin Group (TFG) telah membawa stabilitas finansial yang sangat dibutuhkan klub. Namun, hubungan dengan suporter belum sepenuhnya hangat. Manajer eksekutif Angus Kinnear sempat memicu kritik dengan pernyataannya bahwa klub merasa "bahagia namun tidak puas" dengan musim pertama di stadion baru. Ia kemudian menegaskan bahwa progres memang ada, tetapi belum ada pencapaian nyata.
Everton juga masih berjuang menghadapi sanksi finansial. Klub diperintahkan membayar kompensasi hampir £40 juta kepada Burnley terkait degradasi Burnley pada 2021-22, sebuah keputusan yang tengah mereka ajukan banding. Di sisi lain, kebijakan menaikkan harga tiket musiman hingga hampir 10 persen serta perpanjangan kerja sama dengan sponsor judi Stake menuai protes dari sejumlah pendukung.
Dengan perombakan skuad yang belum tuntas, Everton musim ini akan menjadi ujian sebenarnya bagi Moyes. Prediksi rata-rata jurnalis Guardian menempatkan mereka di peringkat 10, tetapi untuk mencapai itu, Everton harus membuktikan bahwa keruntuhan musim lalu hanyalah kegagalan sesaat, bukan awal dari kemunduran panjang.