MAKASSAR — Arus sampah organik yang masuk ke TPS3R Panambungan, Mariso, kini berlipat ganda. Kebijakan pemilahan sampah berbasis rumah tangga yang digencarkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar mulai menunjukkan hasil nyata di tingkat kawasan.
Sebelumnya, sampah organik dari rumah warga kerap tercampur dengan limbah anorganik dan berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa. Kini, material organik itu lebih banyak terseleksi dan dikirim ke TPS3R untuk diolah menjadi produk bernilai guna.
Muh Saleh menjelaskan, lonjakan volume ini berdampak langsung pada aktivitas produksi di fasilitasnya. Sampah organik yang masuk tidak lagi sekadar ditumpuk, melainkan diolah untuk mendukung budidaya magot, pembuatan komposter, hingga ekoenzim.
"Peningkatan tersebut mengindikasikan mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk memisahkan sampah organik dan anorganik sebelum dibuang," kata Saleh di Makassar, Rabu.
Ia menilai kebijakan ini menjadi langkah strategis untuk menekan beban pengangkutan dan volume sampah yang dikirim ke TPA Tamangapa. Sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi juga dipilah untuk disalurkan melalui jaringan bank sampah.
Di balik tren positif tersebut, ada konsekuensi yang harus diantisipasi. Saleh mengakui bertambahnya volume sampah organik menjadi tantangan tersendiri bagi para pengelola untuk memastikan kapasitas pengolahan tetap seimbang.
Penguatan sarana, ketersediaan tenaga, dan konsistensi pemilahan dari tingkat rumah tangga disebutnya sebagai faktor krusial. Tanpa tiga elemen itu, kebijakan ini berisiko berhenti pada tahap pemisahan sampah saja tanpa ada nilai tambah yang optimal.
Menanggapi hal tersebut, DLH Kota Makassar telah menambah personel di lapangan. Saleh membenarkan bahwa jumlah pemilah di TPS3R Panambungan bertambah dari lima menjadi sepuluh orang untuk mengimbangi volume kerja yang meningkat.
Kepala DLH Kota Makassar, Helmy Budiman, menegaskan bahwa pengolahan sampah dari sumbernya adalah kunci pengurangan beban TPA. Keberhasilan program ini tidak bisa berjalan sendiri, melainkan butuh kolaborasi berkelanjutan antara masyarakat, pengelola TPS3R, bank sampah, hingga pelaku usaha.
"Dengan semakin banyaknya sampah organik yang terpilah dan diterima TPS3R, pengelolaan sampah di tingkat kawasan diharapkan dapat menjadi salah satu solusi mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA, sekaligus mendorong ekonomi sirkular di Kota Makassar," ujar Helmy.
Peningkatan pasokan bahan baku organik ini dinilai membuka peluang lebih besar bagi TPS3R untuk memproduksi kompos dalam skala lebih luas. Jika konsistensi warga terjaga, bukan tidak mungkin ketergantungan kota pada TPA akan berkurang secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.