MAKASSAR — Kelto, atlet panahan dari SAAD Archery Academy, berhasil membawa pulang trofi juara pertama di ajang Panahan Tradisional Mushaf Vol. 3. Pencapaiannya di podium tertinggi itu terbilang cepat, hanya dalam waktu sekitar tujuh bulan sejak ia mulai menekuni olahraga ini secara serius.
Salah satu strategi yang membuat performa Kelto melesat adalah kebiasaannya berpindah-pindah lokasi latihan. Ia sengaja tidak terpaku pada satu tempat untuk membiasakan diri dengan berbagai karakter lapangan dan cuaca yang berbeda.
“Tempat baru berarti suasana baru, orang baru, dan karakter lapangan yang berbeda. Semua itu melatih mental kita,” ujar Kelto. Ia menambahkan, setiap lokasi baru selalu menghadirkan teman dan guru baru yang memberinya ilmu segar dari sesama pemanah.
Menurutnya, fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi menjadi modal krusial saat bertanding di turnamen resmi yang atmosfernya sering kali tidak terduga.
Kelto menegaskan, mental juara tidak dibangun dari semangat sesaat, melainkan dari kebiasaan yang dirawat setiap hari. Di tengah kesibukannya, ia selalu menyempatkan diri memegang busur.
“Saya tidak berlatih hanya ketika sedang mood. Saya berlatih karena itu sebuah keharusan. Setiap hari minimal 45 menit,” tegasnya. Ia lebih fokus pada kualitas repetisi gerakan, bukan sekadar kuantitas anak panah yang dilepaskan ke target. “Tujuannya untuk membangun memori otot,” jelasnya.
Latihan durasi pendek yang konsisten setiap hari, menurut Kelto, jauh lebih efektif membentuk insting memanah dibandingkan latihan berat yang hanya dilakukan sesekali.
Selain berlatih bersama komunitas, Kelto juga memiliki ruang latihan pribadi. Tempat itu ia gunakan untuk kontemplasi dan evaluasi mandiri. Di sana, ia menguji berbagai teknik, membedah kesalahan visual, hingga menyeleksi anak panah yang paling presisi untuk bekal bertanding.
“Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorakan di sana. Hanya ada latihan yang diulang, diperbaiki, lalu diulang lagi. Sendirian,” tutur Kelto. Melalui ruang sunyi ini, ia bisa lebih jujur mengenali kelemahan mekanik memanahnya sebelum dinilai oleh juri di arena kompetisi.
Kisah Kelto menjadi bukti bahwa bakat alami bisa dikalahkan oleh kedisiplinan yang keras. Menutup perjalanannya, ia menitipkan pesan yang selalu ia pegang teguh.
“Juara memang diumumkan di arena di hadapan orang banyak. Tetapi sesungguhnya, juara itu sudah dibentuk jauh sebelum pertandingan dimulai,” pungkasnya.
Perjalanan tujuh bulan atlet asal Makassar ini mengirimkan pesan kuat bagi dunia olahraga lokal: setiap orang memiliki peluang yang sama untuk berdiri di podium, selama memiliki keberanian untuk memulai dan konsistensi untuk bertahan.