MAKASSAR — Di saat 92,64 persen wilayah Indonesia memasuki curah hujan rendah, Sulawesi Selatan justru masuk dalam zona yang masih berpeluang turun hujan. BMKG, dalam Prospek Cuaca Sepekan periode 10–16 Juli 2026, menyebutkan interaksi MJO dan Gelombang Rossby Ekuator menjadi faktor utama yang mendukung pertumbuhan awan hujan di kawasan timur Indonesia.
Fenomena ini diprakirakan berlangsung di sejumlah perairan strategis, termasuk Laut Sulawesi dan Samudra Pasifik di utara Halmahera hingga Papua. Dampaknya, potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih mungkin terjadi di Sulsel, Maluku, dan Papua.
BMKG tak hanya memperingatkan soal hujan. Sulawesi Selatan juga masuk dalam daftar wilayah yang berpotensi mengalami angin kencang. Daerah lain yang masuk dalam daftar serupa adalah Aceh, Jawa Timur, Kepulauan Bangka Belitung, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara.
“Namun demikian, sejumlah fenomena atmosfer masih perlu diperhatikan karena dapat mendukung pertumbuhan awan hujan, baik secara lokal maupun regional,” tulis BMKG dalam prospek cuaca tersebut.
Data BMKG menunjukkan distribusi curah hujan di Indonesia pada Dasarian II Juli 2026 didominasi kategori rendah. Sebanyak 92,64 persen wilayah diprakirakan mengalami curah hujan rendah, 7,32 persen pada kategori menengah, dan hanya 0,04 persen yang masuk kategori tinggi.
Sulawesi Selatan menjadi salah satu wilayah yang masuk dalam kategori pengecualian, di mana dinamika atmosfer lokal masih memungkinkan terjadinya hujan meski musim kemarau tengah berlangsung.
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang terjadi secara tiba-tiba. Imbauan ini terutama ditujukan bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan serta pelaku transportasi darat, laut, dan udara.
“Meski musim kemarau mulai mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, dinamika atmosfer masih memungkinkan terjadinya hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di sejumlah daerah,” demikian pernyataan BMKG.
Masyarakat Sulsel disarankan untuk terus memantau informasi prakiraan cuaca terbaru sebagai langkah antisipasi terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama di tengah kondisi transisi musim yang tidak menentu.