SULAWESI SELATAN — Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah V Besitang, Andoko Hidayat, mengatakan penumbangan manual menggunakan chainsaw ini merupakan lanjutan operasi Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) November 2025. Pemantauan drone mendapati puluhan titik sawit muda masih tersisa di medan terjal yang tak terjangkau alat berat.
"Setelah kami lakukan pemantauan menggunakan drone, ternyata masih ada sisa-sisa sawit yang tidak terjangkau alat berat. Hari ini kami melakukan penumbangan secara manual bersama OIC sebagai bagian dari pemulihan ekosistem," kata Andoko di lokasi.
Kepala Balai Besar TNGL, Subhan, mengungkapkan total kawasan yang dirambah di Blok Tenggulun mencapai 971 hektare. Dari jumlah itu, lebih dari 300 hektare telah disulap menjadi kebun sawit ilegal. Negara baru berhasil menguasai kembali 711 hektare, sementara 260 hektare masih dalam proses penyelamatan.
Direktur Green Justice Indonesia (GJI), Panut Hadisiswoyo, membongkar modus di balik pembukaan lahan masif ini. Menurutnya, praktik spekulasi lahan berjalan rapi: hutan dibuka, ditanami sawit agar terlihat produktif, lalu dijual kepada investor yang tak mengecek legalitas.
"Banyak kawasan hutan dibuka, kemudian ditanami sawit agar terlihat produktif dan selanjutnya diperjualbelikan kepada pihak lain yang tidak mengetahui status kawasan tersebut," ungkap Panut.
Ia mencontohkan, pengusaha dari Medan dan Banda Aceh kerap menjadi sasaran. Mereka tergiur lahan yang sudah berisi sawit tanpa memeriksa dokumen. "Ini modus-modus yang memang sering terjadi," tambahnya.
Di antara batang sawit yang baru tumbang, tim pemulihan menemukan tumpukan kotoran gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus). Bagi Panut, itu bukan sekadar limbah, melainkan bukti bahwa satwa kunci Leuser masih bertahan di sekitar lokasi.
"Tadi kita juga banyak melihat kotoran gajah berserakan, tanda sebagai bukti bahwa ini adalah habitat satwa kunci. Penting sekali memulihkan tidak hanya sebagai rumah satwa, tapi juga sebagai benteng pertahanan untuk menjaga kita," beber Panut.
Resort Tenggulun merupakan bagian dari blok timur Leuser, ruang jelajah empat satwa kritis: harimau Sumatera, gajah Sumatera, orangutan Sumatera, dan badak Sumatera. Kawasan ini juga menjadi daerah tangkapan air bagi hulu sungai yang mengalir ke Aceh Tamiang.
Panut mengingatkan banjir bandang November 2025 yang menghantam Aceh Tamiang. Kerusakan infrastruktur dan hilangnya mata pencaharian warga diperkirakan menimbulkan kerugian triliunan rupiah. "Ini (Tenggulun) adalah hulunya," tegasnya.
Setelah seluruh sawit ilegal dibersihkan, lahan akan direstorasi total menggunakan jenis pohon hutan asli. Proses pemulihan ekosistem diperkirakan memakan waktu 3 hingga 5 tahun.