MAKASSAR — Kekhawatiran warga Makassar terhadap aksi brutal geng motor mencapai puncak setelah seorang bocah berusia 13 tahun menjadi korban tebasan parang di Jalan Abu Bakar Lambogo. Polisi telah mengamankan lima terduga pelaku, sementara dua lainnya masih dalam pengejaran.
Menanggapi situasi yang kian meresahkan, Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana mengeluarkan instruksi tegas. "Kalau memang pelaku kejahatan itu sudah mengancam nyawa masyarakat, perintah saya tembak di tempat," ujarnya dalam konferensi pers, Selasa (12/5/2026).
Meski perintahnya keras, Kombes Arya menekankan bahwa tindakan penembakan bukanlah langkah pertama. Semua tindakan kepolisian harus mengacu pada standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.
"Kalau memang tidak mengancam, dilakukan upaya-upaya yang tegas tapi terukur, tidak serta merta langsung menembak. Tapi kalau mengancam jiwa masyarakat ataupun anggota kepolisian yang sedang bertugas, tembak di tempat," tegasnya.
Anggota DPRD Makassar dari Fraksi Hanura, Muchlis Misbah, menilai penanganan geng motor tidak bisa dibebankan semata-mata kepada aparat. Ia mendorong pengawasan lingkungan diperkuat oleh seluruh elemen masyarakat, mulai dari RT, RW, Linmas, hingga tokoh warga.
"Semua elemen masyarakat harus terlibat dalam penanganan geng motor termasuk tokoh masyarakat, RT, RW, Linmas, Kecamatan, Kelurahan. Kepolisian juga paling inti sebagai pemberi penindakan," kata Muchlis di Balai Kota Makassar, Rabu (13/5/2026).
Ia menambahkan, warga diimbau untuk proaktif membubarkan kelompok motor yang bergerombol di jalanan pada malam hari. Namun, ia mengingatkan agar tindakan fisik diserahkan kepada polisi untuk menghindari benturan hukum di lapangan.
"Artinya, pada dasarnya kalau ada bergerombol naik motor ya kita harus bubarkan, tapi tugas kepolisian kita harus bantu. Penindakannya ada sama polisi karena kalau kita massa bahaya juga," katanya.
Aksi brutal yang memicu kemarahan publik terjadi di Jalan Abu Bakar Lambogo, Makassar. Seorang bocah berinisial H (13) mengalami luka parah setelah ditebas menggunakan parang oleh sekelompok geng motor.
Polisi yang bergerak cepat berhasil meringkus lima orang terduga pelaku. Hingga saat ini, dua orang lainnya masih dalam daftar pencarian orang (DPO) dan terus diburu oleh Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Makassar.
Muchlis menegaskan, kondisi geng motor di Makassar sudah sangat darurat karena tidak lagi menyerang kelompok rival, melainkan warga biasa yang tidak memiliki urusan dengan mereka. "Makanya ada instruksi tembak di tempat kalau memang sudah terbukti dan meresahkan masyarakat," pungkasnya.