PLTP Ulumbu 15 Tahun Beroperasi, Warga Wewo Cerita Perubahan Besar

Penulis: Tedy Rustandi  •  Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:38:02 WIB
PLTP Ulumbu di Manggarai, Flores, genap 15 tahun beroperasi sejak diresmikan pada 11 November 2011.

SULAWESI SELATAN — Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu di Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, genap 15 tahun beroperasi sejak diresmikan 11 November 2011. Warga Desa Wewo menyebut kehadiran pembangkit berkapasitas 2,5x4 megawatt itu mengubah hidup mereka, dari lampu pelita menjadi listrik, hingga membuka akses jalan dan pendampingan usaha tani.

PLTP Ulumbu menjadi pembangkit panas bumi pertama di Flores-NTT. Peresmiannya pada 2011 dihadiri Menteri BUMN kala itu, Dahlan Iskan. Kini PLN tengah menyiapkan pengembangan Unit 5 dan 6 di Poco Leok yang akan menambah kapasitas 40 MW, dengan target beroperasi bertahap pada 2030 dan 2032.

Cerita Warga: Dari Lampu Pelita ke Listrik Panas Bumi

Hendrikus Ampak, Tu'a Gendang Wewo, masih ingat betul momen peresmian pembangkit. Ia bersama Dahlan Iskan memencet tombol penanda beroperasinya PLTP Ulumbu. Gendang Wewo sendiri merupakan salah satu rumah adat pusat yang berada di ring satu pembangkit.

Ia menuturkan, masyarakat setempat sudah mengenal panas bumi sebagai sumber energi bersih jauh sebelum pembangkit beroperasi. Saat itu ada konsultan dari Selandia Baru yang melakukan survei potensi panas bumi di wilayah mereka.

"Waktu itu kami diberi tahu bahwa listrik di Flores masih didominasi diesel yang bahan bakarnya minyak. Sebagian besar minyak diimpor dari tempat jauh. Sementara di daerah kami ada potensi panas bumi yang bisa jadi listrik. Sekarang kami bangga bahwa daerah kami bisa berkontribusi menyalurkan energi bersih untuk masyarakat Flores," ungkap Hendrikus.

Perubahan paling terasa terjadi pada akses jalan. Ketika PLN melakukan pengeboran sekitar 2007-2008, jalan dibuka dan kendaraan mulai masuk ke wilayah mereka. Sebelumnya, warga masih menggunakan lampu pelita dan berjalan kaki menuju Penggeok.

Dampak Ekonomi: Kelompok Tani hingga Sari Temulawak

Bantuan yang mengalir bukan hanya infrastruktur. Warga mendapat pendampingan dan pemberdayaan untuk budidaya sayur-sayuran. Sejumlah kelompok dibina PLN menanam hortikultura, sebagian dijual dan sebagian dikonsumsi sendiri.

Salah satunya Kelompok Tani Wela Sita Werek yang dipimpin Evodia Alut. Selain budidaya sayur, kelompok beranggotakan ibu-ibu ini memproduksi sari temulawak. Dalam sekali produksi, mereka mampu menghasilkan 50 bungkus.

PLN turut menyediakan rumah produksi dan peralatan penunjang seperti kompor, blender, ember, dan wajan berukuran besar. Dukungan ini memberi kelompok tani ruang untuk mengembangkan usaha kecil di tengah masyarakat.

Soal Keluhan Lingkungan dan Kesehatan

Kepala Desa Wewo, Laurensius Langgut, menyatakan warganya mendukung penuh pengembangan PLTP Ulumbu. Ia menegaskan tidak ada dampak negatif signifikan yang dirasakan selama 15 tahun pembangkit beroperasi.

Mengenai keluhan penurunan produktivitas kopi dan cengkeh, Laurensius mengakui hal itu terjadi. Namun ia mencatat pada 2023 cengkeh sempat berbuah lebat hingga warga memanen puluhan ton. Siklus panen yang naik-turun itu, katanya, sudah menjadi pengetahuan umum warga.

Soal atap seng yang disebut lebih cepat rusak, ia membantahnya sebagai dampak pembangkit. Sebelum PLTP beroperasi, seng yang dipakai warga hanya bertahan empat sampai lima tahun. Untuk kesehatan, warga rutin diperiksa tenaga medis dari Puskesmas Ponggeok, dan sejauh ini tidak ditemukan penyakit ISPA.

Hendrikus menambahkan, turunnya produksi tanaman lebih karena kurangnya perawatan. "Ketika panen baru mulai dibersihkan. Kalau begini bagaimana kita berharap hasilnya maksimal," tandasnya.

Potensi Tambahan dan Rencana Unit 5-6

Kepala Teknik Panas Bumi PLTP Ulumbu, Roya Ginting, menjelaskan pembangkit eksisting memiliki tiga sumur. Dari ketiganya, baru satu sumur yang dimanfaatkan untuk pembangkit. Kajian 2022 menemukan potensi tambahan 1 MW dari sumur ULB 3.

Roya memastikan pihaknya belum menemukan fakta sesuai data riil terkait isu lingkungan, penurunan produktivitas tanaman, air permukaan surut, ISPA, maupun penyakit kulit yang disampaikan masyarakat. Evaluasi dan pendataan rutin terus dilakukan.

Kendala terberat, menurut Roya, adalah tidak adanya ruang dialog dengan kelompok masyarakat yang menolak pengembangan Unit 6. "Ketika kita ajak berdialog jawabannya selalu pokoknya tolak," terangnya.

Pengembangan Unit 5-6 di Poco Leok direncanakan menambah kapasitas 40 MW atau 2x20 MW. Setelah seluruh unit beroperasi, total kapasitas terpasang PLTP Ulumbu akan menjadi 50 MW untuk mendukung Sistem Interkoneksi Flores. Rencana ini sudah dimulai sejak 2017, dengan kajian lingkungan, sosial, dan adat yang dipenuhi, serta pengadaan lahan melalui tim independen dan BPN sesuai SK Bupati Manggarai.

PLN berharap potensi panas bumi Flores menjadi fondasi kemandirian energi daerah. Selain mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak impor, pengembangan ini diharapkan membuka lapangan kerja, peluang usaha, serta mendorong pertanian dan pariwisata setempat.

Reporter: Tedy Rustandi
Sumber: tambang.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top