MAKASSAR — Asap karhutla yang melanda sejumlah daerah, terutama Kalimantan, telah memicu kekhawatiran sebagian warga yang mengaitkannya dengan dukhan, salah satu tanda kiamat dalam Islam. MUI Sulsel menilai kekhawatiran itu muncul karena kemiripan istilah, bukan karena kesamaan hakikat fenomena.
Prof Muammar menegaskan secara bahasa dukhan memang berarti asap. Namun asap yang dimaksud dalam Al-Qur'an memiliki konteks tersendiri yang tidak bisa disamakan dengan asap pembakaran hutan dan lahan saat ini.
Menurut Prof Muammar, Surah Ad-Dukhan adalah surah ke-33 dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 59 ayat dan diturunkan di Makkah. Dalam surah itu disebutkan dukhan akan keluar sebagai awal tanda kiamat.
"Dukhan itu dalam Al-Qur'an atau Surah Ad-Dukhan disebutkan nanti akan keluar sebagai awal tanda kiamat. Ya, itu dukhan," ujar Prof Muammar, dilansir dari situs MUI Sulsel, Jumat (16/10/2026).
Ia mengutip potongan ayat Fartaqib yauma ta'tis sama-u bidukhanim mubin, yang menggambarkan kemunculan kabut asap nyata. Konteks ayat inilah yang membedakan dukhan dari asap karhutla yang terjadi sekarang.
Asap karhutla yang melanda sejumlah wilayah, terutama Kalimantan, menimbulkan dampak serius terhadap aktivitas masyarakat. Dampaknya bahkan dilaporkan menjangkau negara tetangga dan menyebabkan sejumlah penerbangan tertunda hingga dibatalkan.
"Asap yang terjadi saat ini dan hampir menyebar di Indonesia, terutama wilayah Kalimantan, dampaknya sampai ke negara tetangga, termasuk kita di Makassar. Banyak penerbangan yang tertunda bahkan dibatalkan akibat karhutla," tegasnya.
Prof Muammar menuturkan kebakaran hutan dan lahan dipicu pembakaran yang disengaja maupun kelalaian manusia. Kemarau panjang karena fenomena El Nino dan lahan gambut yang mengering turut meningkatkan risiko kebakaran.
Rektor Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Gazali itu mengajak pemerintah dan masyarakat mengambil langkah nyata mencegah karhutla dan menjaga kelestarian lingkungan.
"Ini menjadi perhatian kita bersama. Tentu perlu ada langkah-langkah taktis dari pemerintah dan juga semua umat, semua warga Indonesia," terangnya.
Prof Muammar menegaskan asap karhutla saat ini tidak bisa langsung diklaim sebagai dukhan. Fenomena tersebut sebaiknya menjadi pengingat agar manusia bertanggung jawab menjaga lingkungan serta mencegah kerusakan alam.