SOROWAKO — Produk olahan pangan lokal Lahadeng memanfaatkan perhelatan Harkopnas Sulawesi Selatan di Sorowako sebagai panggung memperkenalkan oleh-oleh khas daerah. Sebanyak 100 paket dibagikan kepada pengunjung dalam kegiatan bertajuk Lahadeng Keliling Sulsel. Dukungan datang dari IKA Unhas Luwu Timur yang turut membantu memperkenalkan produk tersebut ke masyarakat.
Nasruddin Nakir, alumni Kelautan Universitas Hasanuddin angkatan 1993 yang akrab disapa Nas, membangun bisnis ini dari kerja keras dan kemandirian. Kini Lahadeng memiliki tiga gerai yang beroperasi di Makassar, Palopo, dan Luwu Timur. Selain penjualan langsung, produknya juga dipasok ke sejumlah toko di Luwu Timur sehingga jangkauan pemasaran semakin luas.
Dari sisi produksi, Lahadeng mampu mengolah sekitar 3.000 buah pisang setiap minggu. Bahan baku singkong dan produk olahan lainnya melengkapi lini usaha tersebut. Kapasitas itu menuntut pasokan bahan baku yang teratur, pengelolaan proses pengolahan, dan kualitas yang konsisten.
Pasar internasional mulai melirik produk Lahadeng. Menurut Nas, terdapat permintaan dari Dubai hingga 10 ton dalam periode 20 hari. Besarnya permintaan itu menjadi peluang menjanjikan, tetapi juga tantangan untuk memastikan kapasitas produksi, mutu produk, kontinuitas pasokan, dan kesiapan memenuhi persyaratan pasar internasional.
Bagi usaha pangan lokal, lonjakan permintaan bukan sekadar soal menjual lebih banyak. Ada pekerjaan di belakangnya: memastikan ketersediaan bahan baku, membangun kemitraan dengan pemasok, mengatur tenaga kerja, menjaga standar pengolahan, hingga mengembangkan sistem distribusi yang sanggup mengikuti pertumbuhan pasar.
Nas menyadari peningkatan kapasitas produksi harus berjalan seiring kepastian pasokan bahan baku. Salah satu harapan pengembangan Lahadeng ke depan adalah membangun pembinaan bagi petani agar ketersediaan pisang dan singkong meningkat, sekaligus membuka peluang ekonomi lebih luas bagi masyarakat di sekitar sentra produksi.
"Ke depan, kami ingin melakukan pembinaan kepada petani agar pasokan bahan baku untuk Lahadeng lebih terjamin dan berkelanjutan. Kami juga berharap bisa mendorong penanaman pisang dan singkong dalam skala yang lebih luas, sehingga kapasitas produksi dapat ditingkatkan seiring dengan berkembangnya permintaan pasar," ujar Nas.
Penguatan sisi hulu menjadi bagian penting dari rencana usaha. Jika permintaan pasar terus bertumbuh, produksi tidak bisa hanya mengandalkan ketersediaan bahan baku yang ada saat ini. Diperlukan pola kemitraan yang memungkinkan petani merencanakan penanaman dan memperoleh kepastian pasar.
Pendekatan itu berpotensi membangun hubungan saling menguntungkan. Lahadeng membutuhkan pasokan bahan baku yang konsisten untuk menjaga keberlanjutan produksi, sementara petani memerlukan akses pasar yang lebih pasti agar pengembangan komoditas pisang dan singkong memberikan nilai ekonomi yang layak.
Selain memperkuat pasokan bahan baku, Nas berencana meningkatkan kualitas rumah produksi. Langkah itu menjadi strategi penting apabila Lahadeng ingin memperluas jangkauan pemasaran dan memenuhi permintaan dalam volume lebih besar.
"Selain itu, kami berencana melakukan peningkatan kualitas rumah produksi agar proses pengolahan semakin baik dan mampu mendukung pengembangan usaha ke depan," katanya.
Penguatan fasilitas pengolahan perlu berjalan seiring kesiapan sumber daya manusia dan sistem distribusi. Perjalanan Lahadeng menunjukkan pentingnya menghubungkan proses produksi dengan strategi pemasaran, ketersediaan produk, serta kemampuan menjaga hubungan dengan toko dan konsumen.