General Manager PT PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) Edyansyah menyebut daya mampu pembangkit hidro di Sistem Kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) turun sekitar 70,6 persen, dari 850 megawatt (MW) menjadi 250 MW. Penurunan sekitar 600 MW itu berdampak langsung pada kemampuan pasok listrik di wilayah Sulbagsel. PLN menyatakan tengah menjalankan sejumlah langkah percepatan untuk memulihkan keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik.
MAKASSAR — Edyansyah menyampaikan hal itu di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat. Menurut dia, penurunan daya mampu pembangkit hidro menjadi salah satu tantangan yang dihadapi PLN dalam menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik di Sistem Sulbagsel.
Daya mampu pembangkit hidro yang sebelumnya berada di kisaran 850 MW kini berada di sekitar 250 MW. Selisihnya mencapai 600 MW atau setara penurunan 70,6 persen.
Penurunan produksi terjadi pada sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), di antaranya PLTA Poso, Bakaru, dan Malea. Sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) juga mengalami hal serupa.
Edyansyah menyebut kondisi hidrologi akibat fenomena El Nino turut mempengaruhi penurunan daya mampu pembangkit hidro tersebut.
"Penurunan daya mampu pembangkit hidro menjadi salah satu tantangan yang kami hadapi dalam menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik di Sistem Sulawesi Bagian Selatan," ujarnya.
PLN menjalankan sejumlah upaya untuk meningkatkan kembali daya mampu pasok sistem. Optimalisasi dilakukan pada pembangkit yang masih tersedia.
Proses pemulihan dan perbaikan PLTU Jeneponto yang mengalami kendala teknis dipercepat. PLN juga mendorong tambahan pasokan dari pembangkit lainnya.
"Kami terus melakukan langkah-langkah percepatan secara paralel. Setiap tambahan megawatt sangat berarti untuk memperkuat sistem. Karena itu, seluruh potensi pembangkit yang tersedia terus kami optimalkan, sementara proses pemulihan dan perbaikan pembangkit juga terus dikawal," kata Edyansyah.
PLN berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait sebagai bagian dari upaya mitigasi terhadap kondisi hidrologi. Salah satunya melalui pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk meningkatkan potensi ketersediaan air bagi pembangkit hidro.
Di sisi operasional, PLN memantau kondisi Sistem Sulbagsel secara real time. Pola operasi pembangkit disesuaikan dengan kondisi pasokan serta kebutuhan listrik.
Langkah itu dilakukan untuk menjaga kestabilan sistem sekaligus mempercepat pemulihan kapasitas pasokan.
"Kami memahami kondisi ini berdampak kepada masyarakat. Karena itu, PLN terus berupaya mempercepat pemulihan dengan mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia," ujar Edyansyah.
PLN menyatakan terus mengevaluasi perkembangan sistem dari waktu ke waktu. Targetnya, keseimbangan suplai dan kebutuhan listrik dapat segera kembali.